— JAKARTA – Operasi Danantara Indonesia dalam membenahi kinerja perusahaan-perusahaan BUMN telah menyasar dua raksasa emiten pelat merah, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Antam Tbk (ANTM).

Operasi ini merupakan bagian dari agenda besar Danantara untuk menggairahkan kembali performa Semen Indonesia Group (SIG) yang belakangan lesu akibat dibekap persoalan struktural. Mengawali transformasi ini, Danantara menyoroti model bisnis, rantai distribusi, mengubah susunan manajemen, hingga menyederhanakan struktur organisasi SIG. Bahkan dalam penetrasi yang lebih jauh, lembaga superholding tersebut berencana mendivestasi aset perseroan yang rugi.

Pasalnya, dalam proses transformasi tersebut, Danantara menemukan adanya sistem sentralisasi penjualan (megadistributor) di model bisnis SIG yang telah menyebabkan entitas anak seperti PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa tidak perform. Akibatnya, kinerja laba bersih perseroan menyusut dari tahun ke tahun. Padahal, SMGR pernah membukukan laba sebesar Rp5 triliun.

Karena itu, Danantara merombak total SMGR antara lain dengan mengubah model bisnis dan membangun tim manajemen yang solid. Danantara juga mengembalikan fungsi organisasi plus mendata seluruh jaringan toko perseroan yang menghasilkan penjualan positif dan mana yang tidak. Pada saat yang sama, tim operasi menekan biaya produksi sehingga membuat SMGR menjadi produsen semen berbiaya paling efisien.

Tidak berhenti di situ, Danantara juga memangkas entitas anak yang tidak memberikan nilai tambah kepada SIG selaku holding. Termasuk, Danantara tengah mempertimbangkan untuk menutup anak usahanya di Vietnam, Thang Long Cement Company (TLCC), lantaran tidak pernah menghasilkan keuntungan dan selalu negatif. Danantara menyebut, TLCC berpotensi membebani perusahaan jika terus-menerus dibiarkan beroperasi.

Kepala Badan (BP) Pengaturan BUMN dan Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menyatakan optimismenya terhadap transformasi tersebut. “Saya cukup optimistis, transformasi ini akan membuahkan hasil dari posisi sebelumnya negatif, tahun 2026 ini saya masih optimistis, Semen Indonesia bisa membukukan keuntungan Rp1 triliun. Ini artinya, sebuah transformasi yang kami lakukan dengan sangat detail dan kami kawal satu per satu,” ungkapnya baru-baru ini.

Selain SMGR, operasi Danantara juga menyasar ANTM sebagai bagian dari anggota holding BUMN Industri Pertambangan alias MIND ID. Mengingat, Danantara saat ini memiliki tugas untuk mengerjakan sebanyak 21 proyek hilirisasi dalam rangka menciptakan lapangan kerja berkualitas dan memberikan nilai tambah dari hasil sumber daya alam.

Dalam konteks ANTM, Dony menyebut, Danantara akan terus memperbesar segmen perdagangan (trading) emas Antam yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan perseroan. Begitu pula dengan bisnis pertambangan komoditas mineral lainnya yang akan ditingkatkan kontribusinya. Upaya diversifikasi ini seiring dengan pertambangan emas Antam semakin hari semakin menipis tinggal menyisakan tambang emas Pongkor, Bogor, yang sampai sekarang masih berproduksi.

“Jadi kami lakukan perbaikan satu persatu dan kami berharap MIND ID akan memberikan kontribusi dividen yang cukup besar bagi Danantara,” ucap Dony. Perlu diketahui, sepanjang tahun buku 2025, MIND ID memberikan setoran dividen kepada Danantara sebesar Rp20,20 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dividen MIND ID pada tahun sebelumnya yang menyetorkan Rp11,21 triliun.

Target Dividen & Laba

Tahun ini, Danantara ditargetkan oleh Presiden RI Prabowo Subianto dapat menyetorkan dividen sejumlah Rp200 triliun, naik 40,55% daripada dividen tahun 2025 sebesar Rp142,3 triliun atau naik tiga kali lipat ketimbang dividen tahun 2024 sebesar Rp85,5 triliun.

Dony menyampaikan, untuk merealisasikan target dividen tersebut, Danantara telah melarang perusahaan-perusahaan BUMN untuk melakukan rekayasa keuangan (financial engineering) yang selama ini menjadi momok bagi perusahaan-perusahaan BUMN. Rekayasa keuangan itu terjadi akibat investasi yang berlebihan (overinvestment) yang tidak dihitung return on investment (ROI) sehingga membuat banyak perusahaan BUMN kesulitan.

Maka dari itu, Danantara telah meminta kepada setiap perusahaan BUMN untuk mempunyai komite investasi guna memitigasi kembali terjadinya overinvestment. Lebih lanjut, Danantara juga telah melibatkan sebanyak 17 akuntan publik untuk mengaudit perusahaan BUMN lantaran tak sedikit di antara mereka yang melakukan fraud.

Dony berharap, melalui transformasi yang dipimpin Danantara ini, persoalan-persoalan tersebut tidak lagi terulang dan dapat segera diselesaikan. Dengan begitu, Danantara mampu merealisasikan target laba bersih tahun ini dari hasil pengelolaan perusahaan BUMN sebesar Rp360 triliun. Laba ini tergolong dua kali lebih tinggi daripada laba bersih yang dibukukan Temasek Holdings Limited, Singapura. “Hal ini menunjukkan kita mampu memiliki perusahaan andal ke depan. Karena ini merupakan komitmen bersama,” tuturnya.

Harus Ekspansi

Sementara itu, Pengamat BUMN Herry Gunawan memandang bahwa target laba bersih dan dividen yang diberikan Presiden kepada Danantara itu merupakan sesuatu yang lazim dan Danantara memiliki kemampuan untuk merealisasikan target-target tersebut. Apalagi, Danantara sudah melakukan konsolidasi yang membuat kinerja perusahaan BUMN jauh lebih efisien dibandingkan sebelum dikonsolidasikan.

Danantara, demikian Herry, akan mampu mewujudkan target laba dan dividen tersebut sepanjang mereka agresif melakukan ekspansi bisnis alih-alih menahan laba dengan menempatkannya di bank, di surat berharga, dan lain sebagainya. “BUMN harus ekspansi misalnya menemukan lahan-lahan baru untuk digarap atau membangun inovasi di tempat lain, sehingga ekspansi ini akan membuat laba BUMN berkelanjutan,” terang Herry.

Terutama ekspansi yang mengarah pada lini-lini bisnis yang heavy import seperti sektor farmasi yang 90% bahan bakunya berasal dari impor sehingga investasi yang dihasilkan Danantara akan turut mensubstitusi sekaligus memperkuat ekosistem di dalam negeri. Dan yang tak kalah penting adalah pengawasan sehingga penting untuk dibangun semacam komite audit yang bertugas untuk mengawasi investasi perusahaan-perusahaan BUMN.

“Jadi, menurut saya, Danantara seharusnya mampu mendeliver permintaan Presiden yang saya pikir, sangat lazim. Asalkan, Danantara melakukannya dengan cara yang efisien dan direncanakan dengan matang. Sebab bagaimanapun, Danantara mempunyai semua sumber daya (resources) untuk melakukan itu,” tandas Herry.