DailyFX.ID — JAKARTA – PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) memperluas jangkauan bisnisnya di sektor energi terbarukan dengan melengkapi portofolio Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) melalui akuisisi 100% saham PT Endorshine Energy Solutions (EES). Langkah strategis ini membuka babak baru bagi emiten energi terbarukan tersebut, seiring munculnya rekomendasi dan target harga saham yang positif.
Akuisisi EES menandai diversifikasi bisnis Arkora Hydro, yang sebelumnya hanya berfokus pada PLTA, kini merambah ke Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, menilai ekspansi ini akan menciptakan peluang pertumbuhan baru bagi ARKO.
Jason Gozali menjelaskan bahwa aset PLTS EES yang berlokasi di Batam dan Bintan sangat strategis. Kedua wilayah tersebut menjadi pusat perhatian seiring meningkatnya permintaan dari sektor pusat data (data center) dan kebutuhan akan pasokan listrik hijau.
Akuisisi EES dilakukan melalui dua anak usaha ARKO, yaitu PT Arkora Tenaga Matahari dan PT Arjuna Hidro, dengan status efektif per 12 Agustus 2026. EES sendiri bergerak di bidang instalasi proyek energi terbarukan dan telah mengoperasikan PLTS di Batam dan Bintan.
Langkah ini diambil sehari setelah Presiden Prabowo meresmikan program nasional PLTS berkapasitas 100 gigawatt (GW) yang ditargetkan selesai dalam tiga tahun. “Langkah tersebut mengubah profil bisnis ARKO. Perseroan kini tidak hanya mengandalkan pembangkit listrik tenaga air, tetapi juga mulai membangun bisnis tenaga surya sebagai mesin pertumbuhan kedua,” ujar Jason di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Tim riset Pluang Maju Sekuritas menyoroti lokasi aset EES sebagai daya tarik utama akuisisi. Batam dan Bintan berada di kawasan yang strategis untuk memenuhi lonjakan permintaan pusat data dari Singapura dan Johor. Nongsa Digital Park, misalnya, hanya berjarak sekitar 35 menit dari Singapura dan terhubung dengan lebih dari 15 kabel bawah laut. Selain itu, biaya konstruksi pusat data di Indonesia tercatat sekitar 23% lebih murah dibandingkan Singapura.
Kapasitas pasokan listrik di Batam yang relatif terbatas menjadi faktor pendukung lain. Per Maret 2026, PLN Batam mencatat daya mampu sekitar 881 megawatt (MW) dengan beban puncak 761 MW, menyisakan cadangan sekitar 120 MW. Kondisi ini menciptakan kebutuhan akan tambahan pasokan listrik bagi proyek pusat data berskala besar.
Kebutuhan ini semakin mendesak karena operator pusat data global atau hyperscaler memiliki mandat net zero, yang mengharuskan mereka menggunakan sumber energi terbarukan, tidak dapat sepenuhnya mengandalkan jaringan listrik yang mayoritas masih berbasis batu bara. Kombinasi faktor-faktor tersebut menjadikan PLTS milik EES di Batam dan Bintan sangat strategis. Nilai aset ini tidak hanya diukur dari kapasitas terpasang, tetapi juga potensi pemenuhan kebutuhan listrik hijau di kawasan pusat data.
Selain potensi dari bisnis tenaga surya, Arkora Hydro memiliki fondasi bisnis yang kuat berkat kontrak penjualan listrik jangka panjang. Seluruh listrik yang dihasilkan diserap oleh PLN melalui perjanjian jual beli listrik dengan durasi 15 hingga 30 tahun. Kontrak ini memberikan visibilitas pendapatan yang stabil bagi ARKO.
Perseroan juga mendapat dukungan dari Grup Astra melalui PT United Tractors Tbk (UNTR) yang menggenggam kepemilikan efektif sekitar 30%. Dukungan finansial lainnya datang dari Indonesia Infrastructure Finance yang bertindak sebagai penjamin obligasi hijau ARKO, serta peringkat -A dari Pefindo.
Rekomendasi dan Target Harga Saham ARKO
Saat ini, kapasitas kontrak ARKO tercatat sebesar 62,8 MW. Proyek dalam tahap pengembangan (pipeline) melampaui 300 MW, atau sekitar lima kali lipat dari kapasitas yang sudah terkontrak. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW, di mana 76% di antaranya berasal dari energi terbarukan, termasuk 11,7 GW tenaga air.
Pluang Maju Sekuritas mengidentifikasi beberapa katalis positif untuk perkembangan bisnis ARKO. Salah satunya adalah potensi kemenangan tender perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) baru sebesar 100 MW pada tahun ini. Katalis lain adalah mulai beroperasinya PLTS Tomoni pada semester II-2026 dan peluang penandatanganan kontrak pasokan listrik langsung dengan operator pusat data.
Namun, Pluang juga menyoroti potensi aksi korporasi lanjutan untuk mendanai ekspansi. Rasio utang bersih terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) ARKO telah mendekati 2 kali, dengan total utang melebihi Rp 1 triliun per kuartal II-2026. Kondisi ini membatasi ruang bagi perseroan untuk menambah utang, padahal peluang akuisisi di sektor tenaga surya masih terbuka lebar seiring dorongan program PLTS 100 gigawatt peak (GWp) dan kebutuhan listrik hijau dari operator pusat data.
Pluang menilai probabilitas ARKO melakukan rights issue dalam 12 bulan ke depan cukup tinggi, terutama jika perseroan melanjutkan strategi pertumbuhan anorganik. Bagi investor jangka panjang, aksi ini berpotensi menjadi katalis positif jika dana hasil penambahan modal langsung digunakan untuk mengakuisisi aset produktif. Namun, dalam jangka pendek, potensi dilusi dapat memberikan tekanan pada harga saham.
Dari sisi teknikal, saham ARKO telah membentuk basis pada kisaran Rp 5.000 hingga Rp 5.500 sejak Juli 2026, setelah mengalami koreksi dari puncak Rp 13.000. Narasi pengembangan PLTS 100 GWp dan ekspansi pusat data dinilai dapat menjadi katalis bagi saham ARKO untuk menembus area resistance.
Pluang Maju Sekuritas merekomendasikan ‘buy’ saham ARKO dengan target harga Rp 7.000 dalam horizon jangka pendek hingga menengah. Target harga ini mencerminkan potensi kenaikan sekitar 35% dari level Rp 5.175.
Ikuti DailyFX.ID
