DailyFX.ID — KUALA LUMPUR – Amerika Serikat (AS) menegaskan bahwa kawasan Asia Tenggara tetap menjadi prioritas strategis utama, terlepas dari kekhawatiran yang muncul terkait kebijakan tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump. Duta Besar AS untuk ASEAN, Kevin Kim, menyatakan bahwa pemerintahan Trump telah memberikan arahan tegas untuk terus memperdalam hubungan ekonomi dan keamanan dengan negara-negara di Asia Tenggara.
“Kami menerima arahan yang sangat jelas dari pimpinan tertinggi pemerintah kami bahwa Asia Tenggara tetap menjadi prioritas utama bagi Amerika Serikat. Inti dari fokus kami adalah menghadirkan solusi Amerika untuk berbagai tantangan dan isu regional,” ujar Kim saat menghadiri International Military Law and Operations Conference di Kuala Lumpur, Rabu (12/8/2026).
Pernyataan ini disampaikan di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi kawasan terkait kebijakan perdagangan AS. Menanggapi pertanyaan mengenai potensi kebijakan tarif mengikis kepercayaan antara AS dan ASEAN, Kim menekankan bahwa pendekatan Trump berlandaskan pada prinsip kesetaraan. “Presiden menginginkan syarat perdagangan yang adil dan rekiprokal (fair and reciprocal). Prinsip ini yang menjadi pendorong utama dari agenda perdagangan kami,” kata Kim.
Ia menambahkan, pemerintah AS berupaya menyeimbangkan kembali hubungan dagangnya, termasuk memastikan produk yang masuk ke pasar AS bebas dari praktik kerja paksa. Kim juga menyoroti besarnya kontribusi ekonomi AS di kawasan ini, dengan nilai investasi Amerika Serikat di Asia Tenggara kini telah menembus angka US$ 500 miliar. Angka ini melampaui total akumulasi investasi AS di China, Hong Kong, India, Korea Selatan, dan Jepang jika digabungkan.
Lebih dari 6.000 perusahaan asal Amerika Serikat saat ini beroperasi di berbagai negara ASEAN, yang berperan penting dalam mendiversifikasi rantai pasok serta menciptakan lapangan kerja lokal. Penguatan kemitraan ini juga ditunjukkan melalui paket investasi strategis senilai US$ 2,5 miliar untuk Asia Tenggara yang diumumkan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam kunjungannya ke Manila bulan lalu, dengan fokus pada pengembangan ketahanan energi dan teknologi masa depan.
Sikap AS Terhadap Isu Regional
Selain isu ekonomi, Kim membeberkan pandangan politik luar negeri AS terkait dua isu krusial di kawasan.
Sengketa Laut China Selatan
Kim menegaskan bahwa negosiasi Code of Conduct (Kode Etik) di Laut China Selatan (LCS) sepenuhnya merupakan ranah antara ASEAN dan China. AS tidak bertindak sebagai pihak dalam perundingan tersebut dan menghormati mekanisme konsensus ASEAN. Meski demikian, AS menegaskan kawasan laut tersebut sebagai jalur maritim vital bagi ekonomi global. AS akan terus menjaga prinsip kebebasan navigasi (freedom of navigation), memenuhi kewajiban traktat pertahanan dengan Filipina, serta memberikan bantuan keamanan bagi sekutu di kawasan.
Penyelesaian Krisis Myanmar
Mengenai konflik internal di Myanmar, AS mendesak penghentian kekerasan dan dimulainya kembali dialog antarpihak yang bertikai. Kim menekankan pentingnya penghormatan terhadap Five-Point Consensus (Konsensus Lima Poin) yang digagas ASEAN. “AS ingin melihat penurunan penderitaan kemanusiaan dan terwujudnya dialog agar para pihak dapat bertukar pandangan secara damai,” ungkapnya.
Menutup keterangannya, Kim menegaskan kembali komitmen jangka panjang AS terhadap kawasan. “Presiden menyatakan kami mendukung ASEAN 100%. Itu adalah sikap kami dulu, sekarang, dan masa depan,” kata dia.
Kemitraan strategis antara AS dan ASEAN telah berlangsung selama lebih dari empat dekade, menempatkan kawasan Asia Tenggara sebagai pusat gravitasi ekonomi dan geopolitik di Indopasifik. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, hubungan bilateral ini diuji oleh dinamika proteksionisme perdagangan internasional serta rivalitas sengit antara AS dan China dalam memperebutkan pengaruh ekonomi dan militer di kawasan.
Kebijakan tarif proteksionis yang diterapkan oleh pemerintahan AS menciptakan tantangan tersendiri bagi negara-negara ASEAN yang mengandalkan ekspor berbasis manufaktur dan komoditas. Di sisi lain, Asia Tenggara berada di posisi strategis dalam arus perdagangan dunia, di mana stabilitas Laut China Selatan menjadi kunci bagi kelancaran logistik global. Melalui pendekatan diplomasi aktif dan komitmen investasi berkelanjutan, AS berupaya mempertahankan perannya sebagai mitra strategis utama yang tak tergantikan (indispensable partner) bagi pertumbuhan dan stabilitas kawasan ASEAN.
Ikuti DailyFX.ID
