DailyFX.ID — Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan hari Rabu, 12 Agustus 2026. Pada perdagangan sore ini, nilai tukar rupiah ditutup melemah 16 poin atau 0,09% ke level Rp 17.877 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.861 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah berlanjut setelah Kementerian Keuangan merilis total utang pemerintah yang telah mencapai Rp 10.293,69 triliun per 30 Juni 2026. Angka tersebut membuat rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 41,26%.
Utang tersebut berasal dari hasil penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 8.966,79 triliun, dan pinjaman Rp 1.326,90 triliun. Sebelumnya, posisi utang pemerintah masih senilai Rp 9.920,42 triliun sampai dengan akhir Maret 2026.
Dari sisi eksternal, rupiah melemah seiring ketegangan yang terus berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas pelayaran di jalur itu tetap minim.
“Disisi lain, investor kini menantikan data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada hari Rabu, diikuti oleh data harga produsen pada hari Kamis. Angka yang lebih rendah dari perkiraan dapat mengurangi tekanan bagi The Fed untuk memperketat kebijakan, sementara angka yang lebih tinggi dapat memicu kembali ekspektasi kenaikan suku bunga,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).
Rupiah melemah saat pelaku pasar cenderung menahan diri untuk mengambil posisi agresif menjelang rilis data CPI. Pasar swap memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada bulan September berada di kisaran 50-50.
Ikuti DailyFX.ID
