DailyFX.ID — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya telah menyiapkan tiga strategi utama untuk merespons dinamika politik dan keamanan dengan Iran. Opsi tersebut mencakup pengetatan tekanan ekonomi hingga kemungkinan eskalasi militer.
“Kami memiliki tiga strategi. Langkah pertama adalah tindakan yang sedang kami jalankan saat ini, yaitu memberikan tekanan sangat keras. Langkah kedua adalah menekan mereka secara ekonomi, yang sejatinya sudah dan terus kami lakukan,” ujar Trump seperti dikutip Sputnik, Rabu (12/8/2026).
Pernyataan ini menggarisbawahi sikap tegas AS terhadap Iran. Sebelumnya, pada Minggu (9/8/2026), Trump mengakui bahwa intensitas diplomasi langsung untuk mencapai kesepakatan baru dengan Iran dikurangi secara bertahap. Pemerintah AS kini memilih untuk berhati-hati dan mengandalkan sanksi ekonomi sebagai instrumen utama penekanan.
Meskipun mengambil sikap tegas, Trump sempat menahan langkah militer langsung. Pada awal Agustus 2026, ia memutuskan untuk membatalkan rencana serangan udara terhadap Iran.
Pembatalan tersebut dimaksudkan untuk memberikan ruang bagi peluang diplomasi damai, khususnya terkait jaminan keamanan navigasi di Selat Hormuz serta pembatasan program nuklir Iran.
Di sisi lain, respons diplomatik terus berjalan di tingkat regional. Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi bahwa pihak Iran telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai batas-batas geografis dan teknis rute pelayaran kapal yang melintas di Selat Hormuz, demi menjaga stabilitas arus logistik global di kawasan tersebut.
Ketegangan antara AS dan Iran kembali memuncak setelah Gedung Putih secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2018 dan menerapkan kembali sanksi ekonomi berskala besar. Langkah ini memperlemah perekonomian Iran, terutama pada sektor ekspor minyak bumi.
Perselisihan tersebut memicu gesekan di kawasan strategis Timur Tengah, terutama di Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur pelayaran internasional yang dilalui sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia.
Penumpukan armada militer AS di kawasan Teluk, ditambah tindakan saling klaim atas keamanan navigasi laut, menjadikan Selat Hormuz sebagai titik panas (hotspot) yang sewaktu-waktu berpotensi memicu konflik terbuka berskala global.
Ikuti DailyFX.ID
