— Perkembangan aset kripto melalui tokenisasi atau Real World Assets (RWA) menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan. Aset tertokenisasi juga semakin mendapat perhatian dalam industri aset kripto global seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi blockchain oleh institusi keuangan. Tren ini diprediksi akan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekosistem aset digital dalam beberapa tahun ke depan.

Berdasarkan data RWA.xyz yang dikutip Pintu, salah satu platform trading aset kripto di Indonesia, nilai aset RWA on-chain di luar stablecoin berada pada kisaran US$25 miliar hingga US$35 miliar. Angka ini tumbuh sekitar empat kali lipat dalam setahun terakhir.

Mencermati kondisi tersebut, Presiden Direktur Pintu Andy Putra menargetkan penambahan jumlah aset RWA tertokenisasi pada platformnya mencapai 100 token hingga akhir 2026, dari jumlah saat ini yang mencapai 55 token. Ia mengungkapkan bahwa aset tertokenisasi RWA menjadi lebih dinamis dan menarik perhatian para trader kripto yang mulai beralih dari kripto-native ke RWA. Hal ini mendorong Pintu untuk membawa ratusan aset tokenisasi ke pasar Indonesia.

Andy menilai, aset tertokenisasi RWA bakal menjadi tren masa depan bagi para investor Indonesia maupun global. Pasalnya, RWA tertokenisasi memberikan akses terhadap eksposur aset kelas dunia, mulai dari saham global, indeks, hingga komoditas, melalui kepemilikan secara fraksional. Tokenisasi aset dunia nyata bahkan menjadi salah satu segmen yang berkembang pesat di industri aset kripto secara global.

Untuk mewujudkan target tersebut, Pintu berkolaborasi dengan Ondo Finance guna memperluas akses investor Indonesia terhadap aset global berbasis tokenisasi. Saat ini, aset tertokenisasi yang tersedia di Pintu mencakup saham global seperti Apple dan NVIDIA, exchange-traded fund (ETF) dan indeks seperti S&P 500 dan NASDAQ, serta komoditas seperti emas dan perak.

“Ada hal yang menarik saat ini, dimana menjadi sebuah tren global yaitu muncul token yang kita sebut dengan tokenized RWA. Ini yang menjadi sangat hype di seluruh dunia. Bahkan angka transaksinya sudah melebihi token kripto yang saat ini. Jadi kenapa kita melihat RWA ini akan memiliki prospek yang cerah ke depannya,” ungkap Andy.

Dia menjelaskan, terdapat dua perbedaan mendasar antara trading aset kripto, terutama tokenized RWA, dan saham konvensional. Pertama, trading kripto memiliki waktu yang fleksibel dengan trading time 24/7, memungkinkan investor bertransaksi kapan saja. Kedua, pajak yang dikenakan pada kripto bersifat final sebesar 0,21%, berbeda dengan saham konvensional yang pengenaan pajaknya bergantung pada bracket pajak investor.

“Jadi dua hal tersebut yang paling menarik kenapa orang mencoba beralih ke RWA tokenize stock. Selain itu, perdagangan tokenized assets ini kita dapat memperdagangkannya dengan mata uang rupiah. Jadi konsumen tidak perlu menukarkan rupiah terlebih dahulu, tapi bisa langsung bertransaksi dengan rupiah,” jelas Andy.

Sementara itu, Senior Director Asia Pacific Ondo Finance Rania Rahardja menuturkan, Indonesia menjadi salah satu pasar yang dinilai memiliki potensi dalam pengembangan RWA di kawasan Asia Pasifik. “Melalui kolaborasi dengan Pintu, kami menghadirkan saham dan ETF global secara onchain dengan aksesibilitas, likuiditas, dan transparansi yang lebih baik,” tutur Rania.