DailyFX.ID — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan Washington melanjutkan kampanye militer terhadap Iran dan mengambil alih kendali atas cadangan minyak negara tersebut. Trump menyamakan skenario ini dengan kesepakatan pengelolaan minyak yang telah dibuat AS bersama Venezuela pada awal tahun ini.
Saat berbicara di sela-sela kejuaraan golf Irish Open di Irlandia, Trump menyatakan AS pada akhirnya akan keluar dari konflik Iran, kecuali jika diputuskan untuk tetap bertahan demi menguasai pasokan minyaknya. Ia juga mengklaim pendapatan AS dari skenario Venezuela telah menutup biaya operasional militer berkali-kali lipat.
Berdasarkan kesepakatan pada Agustus 2026, Venezuela menyerahkan kendali mayoritas atas lebih dari 65 miliar barel cadangan minyaknya kepada AS, dua kali lipat dari total cadangan domestik AS, dengan imbalan kucuran dana sebesar US$ 209 miliar ke kas negara Venezuela. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebutkan kesepakatan tersebut juga mendatangkan investasi swasta sebesar hampir US$ 100 miliar untuk memulihkan ekonomi negara tersebut.
Trump mengisyaratkan harapannya agar perang tujuh bulan di Iran dapat berakhir tahun ini, kemungkinan setelah pemilu sela pada November 2026. Ia mengklaim harga bahan bakar akan melonjak turun setelah konflik mereda. Meskipun Trump mengaku pihak Iran terus mendesak untuk berunding, klaim perundingan damai tersebut sebelumnya telah dibantah oleh pihak Iran.
Buntu Diplomasi Selat Hormuz dan Lonjakan Harga Minyak
Pernyataan Trump mengemuka saat upaya diplomasi di kawasan Selat Hormuz mengalami jalan buntu. Pertemuan di Oman antara negara-negara Teluk dan Iran untuk membahas rute pelayaran resmi terpaksa ditunda akibat belum tercapainya konsensus, sebagaimana disampaikan Menlu Oman Badr Albusaidi.
Selat Hormuz dan jalur Bab el-Mandeb terus terancam oleh blokade serta serangan militer. Eskalasi konflik terbaru membuat harga minyak mentah melambung tinggi menembus angka US$ 100 per barel.
Kenaikan harga minyak kian diperparah oleh keputusan Arab Saudi yang menutup pipa energi utama East-West akibat kerusakan yang dipicu serangan drone dari Irak. Di pasar berjangka, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,3% menjadi US$ 102,39 per barel, sementara minyak mentah Brent naik 2,4% mencapai US$ 107,11 per barel.
Krisis energi global sepanjang 2026 dipicu oleh letupan perang di Timur Tengah sejak Februari 2026, yang langsung melumpuhkan dua jalur maritim vital dunia yakni Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb. Blokade navigasi dan saling balas serangan antara AS, Iran, serta sekutu regionalnya seperti kelompok Houthi telah mengganggu rantai pasok minyak dunia secara signifikan.
Sikap agresif pemerintah AS yang mengaitkan intervensi militer dengan penguasaan aset sumber daya alam, seperti pada kesepakatan minyak Venezuela, menciptakan preseden baru dalam kebijakan luar negeri AS. Strategi ini diambil untuk menekan tingkat inflasi domestik sekaligus mengamankan cadangan energi nasional di tengah tingginya harga komoditas global.
Ikuti DailyFX.ID
