DailyFX.ID — Indeks-indeks saham Wall Street mengalami pelemahan signifikan pada Senin (14/9/2026). Tekanan datang dari berbagai arah, termasuk lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang hampir menyentuh level 5%, kenaikan harga minyak mentah, serta aksi jual saham-saham teknologi yang dipicu oleh kekhawatiran mengenai keselamatan kecerdasan buatan (AI).
Indeks S&P 500 tercatat turun 0,48% ke level 7.619,98. Nasdaq Composite juga melemah 0,56% menjadi 26.186,41. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average terkoreksi 152,09 poin atau 0,29% ke posisi 52.421,20.
Tekanan pada pasar sempat terasa lebih dalam. Indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing sempat merosot hingga 0,8% dan 1,3% pada titik terendah perdagangan. Dow Jones bahkan sempat kehilangan hampir 300 poin dari nilai penutupannya.
Saham-saham di sektor teknologi menjadi salah satu sasaran utama aksi jual. Kekhawatiran ini dipicu oleh pernyataan CEO Anthropic, Dario Amodei, yang menyerukan perlambatan pengembangan kemampuan AI karena potensi risiko keselamatan. Sejumlah tokoh teknologi terkemuka lainnya juga turut memberikan dukungan terhadap usulan tersebut.
Dalam sebuah esai yang diterbitkan pada Sabtu (12/9/2026), Amodei menekankan bahwa perusahaan AI perlu untuk memperlambat inovasi pada model-model tercanggih mereka. Namun, dalam wawancara terpisah dengan CBS News pada Minggu (13/9/2026), ia mengakui tantangan terbesar adalah bagaimana jika China tidak mengambil langkah serupa.
Di sisi lain, CEO OpenAI, Sam Altman, menyatakan bahwa rencana penawaran umum perdana saham (IPO) perusahaan pada tahun ini dinilai sebagai keputusan yang kurang bijaksana.
Dampak kekhawatiran ini terlihat jelas pada pergerakan saham-saham teknologi. Saham Nvidia anjlok 3%, sementara Broadcom dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing merosot lebih dari 4%. Saham Intel turun lebih dari 5%, dan Marvell Technology terperosok lebih dari 7%.
David Wagner, kepala investasi ekuitas di Aptus Capital Advisors, menyatakan bahwa pernyataan sejumlah tokoh teknologi mengenai perlunya memperlambat pengembangan AI generasi terdepan dapat mengejutkan pasar. Namun, menurutnya, kondisi tersebut justru bisa menjadi peluang bagi pasar saham.
“Jika belanja modal melambat, laba juga akan melambat. Namun, arus kas bebas kemungkinan akan meningkat, yang dapat mendorong ekspansi valuasi kembali ke level yang terlihat pada Desember 2025,” ujar Wagner.
Ia menambahkan bahwa pasar juga memasuki periode musiman yang cenderung lemah. Ditambah lagi dengan retorika politik menjelang pemilihan paruh waktu AS, kondisi tersebut dapat membuat pasar saham mengambil jeda setelah periode penguatan sebelumnya.
Yield Obligasi Nyaris 5%
Tekanan terhadap Wall Street juga datang dari pasar obligasi. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat melonjak ke level tertinggi sejak Oktober 2023, mendekati angka 5%, sebelum akhirnya sedikit menurun.
Pada akhir perdagangan, yield obligasi AS tenor 10 tahun tercatat naik sedikit lebih dari 1 basis poin menjadi 4,987%. Angka ini menunjukkan kekhawatiran investor terhadap inflasi dan kebijakan moneter The Fed.
Investor kini menantikan pertemuan kebijakan moneter The Fed yang dijadwalkan pada bulan September. Pelaku pasar memperhitungkan peluang sekitar 92% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga, berdasarkan data dari CME FedWatch Tool.
Ekspektasi kenaikan suku bunga ini menguat di tengah tekanan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,34% menjadi US$ 101,39 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent menguat 1,02% menjadi US$ 105,68 per barel.
Harga minyak sempat melonjak setelah Arab Saudi menutup jalur pipa utama yang tidak melewati Selat Hormuz. Namun, harga kemudian bergerak turun dari level tertingginya setelah ada klarifikasi lebih lanjut.
Minyak mentah AS telah menembus US$ 100 per barel pada pekan lalu untuk pertama kalinya sejak Mei, di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Lonjakan harga energi ini turut membebani ketiga indeks utama Wall Street, dengan Dow Jones mencatat penurunan mingguan terbesar sejak Maret lalu.
Saham Bank of America juga turut menjadi pemberat perdagangan setelah anjlok 5%. CEO Brian Moynihan menyatakan bahwa pendapatan biaya perbankan investasi pada kuartal III-2026 kemungkinan akan turun lebih dari 10% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, pendapatan dari aktivitas perdagangan diperkirakan relatif stagnan.
Prospek pendapatan yang kurang menggembirakan dari sektor perbankan ini menambah tekanan terhadap saham sektor keuangan di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar menjelang keputusan suku bunga The Fed.
Ikuti DailyFX.ID
