— JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mengidentifikasi sejumlah faktor global yang memengaruhi gejolak nilai tukar rupiah saat ini. Pelemahan mata uang Garuda turut didorong oleh peningkatan kebutuhan valuta asing (valas) dari para importir, serta adanya arus keluar dana dari aset portofolio domestik.

Berdasarkan data pasar spot exchange pada Senin (21/9/2026) pukul 09.05 WIB, rupiah tercatat dibuka melemah 33 poin atau 0,19% ke posisi Rp 17.791 per dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini mendorong harga minyak tetap tinggi di atas US$ 100 per barel, yang berimplikasi pada peningkatan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal.

Erwin menegaskan bahwa BI secara konsisten hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan optimal dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya. Hal ini dilakukan melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan penguatan strategi operasi moneter yang pro-pasar. Selain itu, BI juga memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif.

“Secara umum, pergerakan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan penguatan secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,37%. Posisi cadangan devisa juga meningkat ke level US$ 146,5 miliar pada akhir Agustus 2026,” ujar Erwin.

BI juga terus melakukan intervensi secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

“BI melakukan koordinasi dan komunikasi secara intensif dengan korporasi dan pelaku pasar untuk mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan. Kami juga mendiversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT),” terang Erwin.