— Nilai tukar rupiah (IDR) diproyeksikan akan kembali menghadapi tekanan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Senin, 28 September 2026. Pada penutupan perdagangan Jumat sore (25/9/2026), rupiah tercatat menguat tipis 13 poin atau 0,07% ke level Rp 17.903 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah dengan kisaran Rp 17.900 hingga Rp 17.950 per dolar AS pada Senin depan. Ia menambahkan bahwa pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan diperkirakan berada di rentang Rp 17.800 hingga Rp 18.100 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, penguatan rupiah yang terjadi sebelumnya didukung oleh kerja sama fiskal antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI). Sinergi ini bertujuan mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi melalui pemanfaatan instrumen kebijakan fiskal dan moneter secara terpadu. Selain itu, penguatan sektor eksternal juga berperan menjaga stabilitas dari potensi gejolak eksternal pada sektor perdagangan dan aliran modal asing (capital inflows).

Langkah strategis lainnya yang turut menopang adalah pengelolaan likuiditas perekonomian untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang, perbankan, dan sektor riil, serta merespons dinamika perebutan dana yang dapat memicu kenaikan beban biaya dana (cost of fund). Pengendalian inflasi melalui penguatan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID) serta pendalaman pasar keuangan untuk memperlancar transmisi kebijakan dan memperluas basis pembiayaan ekonomi juga menjadi fokus.

Meskipun demikian, pergerakan rupiah masih dibayangi oleh sejumlah sentimen eksternal. Salah satu yang paling disorot adalah sinyal dari Federal Reserve (The Fed) yang membuka kemungkinan untuk kembali menaikkan suku bunga acuan. Presiden The Fed wilayah New York, John Williams, dalam pernyataannya menekankan perlunya mengembalikan inflasi ke tingkat target dalam waktu yang tepat, dan melihat adanya peluang kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun.