DailyFX.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tajam pada sesi I perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026. IHSG tercatat naik 93,83 poin atau 1,47% ke level 6.487, ditopang sentimen positif dari pasar global dan domestik.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan, penguatan IHSG sejalan dengan pergerakan positif bursa saham Asia dan Wall Street. Pelaku pasar cenderung mengesampingkan risalah rapat The Fed yang menunjukkan sejumlah pejabat mulai mendukung kenaikan suku bunga.
“Sebaliknya, perhatian pasar lebih tertuju pada penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) yang mendorong investor kembali meningkatkan eksposur pada aset berisiko,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Kamis (20/8/2026).
Menurut Pilarmas, penurunan yield obligasi terjadi setelah pemerintah AS mengumumkan rencana untuk meredakan tekanan akibat gejolak pasar obligasi. Departemen Keuangan AS secara signifikan meningkatkan operasi pembelian kembali (buyback) surat utang, sehingga meredakan kekhawatiran terhadap kenaikan biaya pinjaman yang sebelumnya membebani pasar saham global.
“Pasar memiliki pandangan bahwa penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS membantu memulihkan selera risiko,” tambah Pilarmas.
Selain pergerakan obligasi AS, Pilarmas menyebutkan, pelaku pasar juga mencermati keputusan bank sentral China yang mempertahankan suku bunga acuan pinjaman (Loan Prime Rate/LPR) tidak berubah. LPR satu tahun tetap di level 3%, sedangkan LPR lima tahun bertahan di 3,5%. Keputusan tersebut dinilai mencerminkan sikap hati-hati bank sentral China di tengah ketidakpastian ekonomi domestik dan global.
Kebijakan tersebut juga sejalan dengan komitmen bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter akomodatif. Ekspektasi stimulus tambahan kembali menguat setelah data ekonomi China pada Juli menunjukkan pelemahan.
“Pelaku pasar kini menantikan pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional China pada 25-28 Agustus 2026 untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan ekonomi selanjutnya,” tambah Pilarmas.
Sentimen Dalam Negeri
Dari dalam negeri, Pilarmas menyebutkan, pasar mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan. “Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah meningkatnya volatilitas global akibat konflik di Timur Tengah,” papar Pilarmas.
BI juga mempertahankan sasaran inflasi 1,5%-3,5% untuk 2026 dan 2027 sekaligus tetap mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Pejabat Sementara Gubernur BI menyampaikan bahwa kebijakan moneter akan terus berfokus pada stabilitas nilai tukar. BI juga akan memperluas skema insentif lindung nilai untuk menarik lebih banyak arus modal masuk.
Selain itu, lanjut Pilarmas, bank sentral akan terus melakukan intervensi di pasar domestik dan luar negeri serta memberikan insentif bagi masuknya dana asing. “Langkah makroprudensial juga akan digunakan untuk memastikan likuiditas perbankan tetap memadai sehingga dapat mendukung penyaluran kredit,” ungkap Pilarmas.
Pada sesi I perdagangan Kamis, sejumlah saham mencatat kenaikan terbesar. Saham TRUK, ALKA, COIN, KETR, dan BIPP menjadi jajaran saham dengan penguatan paling tinggi. Sebaliknya, saham CTBN, BAJA, SONA, URBN, dan WEGE berada dalam jajaran saham yang mengalami tekanan terbesar.
Untuk perdagangan di sesi II, Pilarmas merekomendasikan buy untuk saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan level support dan resistance masing-masing di 178-214.
Ikuti DailyFX.ID
