DailyFX.ID — Harga Bitcoin (BTC) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Senin (14/9/2026) pagi. Penurunan ini terutama dipicu oleh aksi jual besar-besaran yang dilakukan oleh para investor bermodal besar, yang dikenal sebagai whale.
Berdasarkan data CoinMarketCap yang dirilis pukul 06.00 WIB, harga Bitcoin (BTC) tercatat jatuh 0,75% menjadi US$ 76.640 per koin. Nilai ini setara dengan sekitar Rp 1,34 miliar, dengan asumsi kurs saat ini berada di Rp 17.607 per dolar AS.
Koreksi serupa juga terjadi pada kapitalisasi pasar kripto global, yang terkoreksi 0,9% dalam 24 jam terakhir dan kini berada di angka US$ 2,62 triliun. Indeks CoinDesk 20, yang mengukur kinerja 20 aset kripto terbesar, juga anjlok 0,94%. Ethereum (ETH) ambles 1,97% menjadi US$ 2.473, sementara Binance Coin (BNB) terkoreksi 1,43% ke level US$ 715.
Analis CryptoQuant, GugaOnChain, menyoroti level US$ 81.700 sebagai ambang batas penting. Level ini merupakan rata-rata harga penutupan Bitcoin dalam satu tahun terakhir. Saat ini, Bitcoin masih berjarak sekitar US$ 4.900 dari target tersebut. Jika Bitcoin mampu menembus dan bertahan di atas US$ 81.700 pada penutupan mingguan, level ini dapat menjadi konfirmasi kembalinya tren bull market.
Namun, tekanan jual dari investor bermodal besar masih menjadi kendala utama. CryptoQuant mencatat Exchange Whale Ratio berada di level 0,93. Indikator ini menunjukkan porsi Bitcoin yang masuk ke bursa dari dompet berukuran besar, dan level saat ini dianggap sebagai sinyal peringatan.
Di sisi lain, investor ritel masih menunjukkan minat yang tinggi. Fear and Greed Index tercatat berada di zona greed dengan skor 66. Selain itu, taker buy/sell ratio sebesar 1,12 mengindikasikan trader masih agresif mengambil posisi beli dengan leverage.
Meskipun demikian, investor institusi di Amerika Serikat (AS) belum menunjukkan langkah serupa. Coinbase Premium yang negatif mengindikasikan Bitcoin diperdagangkan lebih murah di bursa utama AS dibandingkan pasar offshore. Kondisi ini menandakan belum kuatnya minat beli dari investor institusi AS.
“Dengan momentum harga yang sudah kehabisan tenaga dan FEI Score berada di zona noise, kondisi ini membuka peluang terjadinya long squeeze,” ujar GugaOnChain. Long squeeze terjadi ketika trader yang memprediksi kenaikan harga terpaksa menjual posisinya untuk menutup kerugian, yang dapat semakin memperbesar tekanan penurunan harga Bitcoin.
Area Resistance dan Support Bitcoin
CryptoQuant, dalam laporannya tanggal 11 September, mengidentifikasi area US$ 77.100-80.200 sebagai resistance terdekat bagi Bitcoin. Area ini juga merupakan zona pengambilan untung bagi pemegang Bitcoin dalam jumlah besar. Dilaporkan bahwa pemegang jangka panjang telah melepas hingga 539.000 BTC di kisaran harga tersebut sepanjang tahun ini.
“Batas atas tersebut merupakan area ketika aksi ambil untung trader secara historis muncul,” kata analis CryptoQuant, Moreno.
Apabila Bitcoin berhasil menembus area US$ 77.100-80.200, level resistance berikutnya berada di US$ 83.600 dan US$ 88.700.
Sebaliknya, jika tekanan jual terus berlanjut, level US$ 70.000 menjadi support terdekat. Support berikutnya berada di kisaran US$ 62.000-65.000, yang telah menjadi area akumulasi sekitar 476.000 BTC sepanjang tahun ini.
Dengan aksi jual yang masih dilakukan oleh whale dan minimnya dukungan dari investor institusi AS, Bitcoin masih memerlukan katalis baru untuk dapat menembus US$ 81.700 dan membuka jalan menuju fase bull market berikutnya.
Ikuti DailyFX.ID
