DailyFX.ID — JPMorgan Chase memprediksi Bitcoin dapat memperoleh dukungan lebih besar dibandingkan emas apabila investor mulai menarik diri dari posisi defensif di pasar aset kripto. Analisis ini menempatkan Bitcoin sebagai penantang baru yang potensial bagi dominasi emas.
Dalam catatan riset yang dipimpin oleh Nikolaos Panigirtzoglou, JPMorgan mengamati bahwa investor Bitcoin saat ini cenderung melakukan lindung nilai (hedging) lebih besar dibandingkan investor emas. Jika tingkat kehati-hatian ini mulai berkurang, Bitcoin dinilai memiliki peluang untuk mendapatkan manfaat yang lebih signifikan.
“Kontras ini menunjukkan bahwa Bitcoin masih menghadapi latar belakang positioning yang secara keseluruhan lebih skeptis dibandingkan emas,” demikian tertulis dalam catatan JPMorgan yang dikutip dari Yahoo Finance.
JPMorgan menyoroti bahwa kondisi makroekonomi dan regulasi masih menjadi tantangan utama bagi Bitcoin. Pada 15 September, Senat Amerika Serikat gagal meloloskan CLARITY Act ke tahap selanjutnya karena dukungan untuk cloture tidak mencapai ambang batas yang diperlukan. RUU ini dirancang untuk menciptakan kerangka regulasi pasar aset kripto di AS.
Satu hari berselang, Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%. Kenaikan ini merupakan yang pertama sejak tahun 2023, di mana bank sentral AS masih terus menyoroti tingginya angka inflasi.
Suku bunga yang lebih tinggi dan kenaikan imbal hasil riil obligasi pemerintah AS berpotensi menekan Bitcoin maupun emas, karena aset yang memberikan bunga menjadi lebih menarik bagi investor.
Meskipun demikian, JPMorgan melihat adanya perbedaan penting dalam posisi investor kedua aset tersebut. Dana yang keluar dari ETF emas pada awal 2026 telah berhasil dipulihkan sepenuhnya. Sebaliknya, ETF Bitcoin baru berhasil memulihkan sekitar setengah dari dana keluar sebelumnya.
ETF Bitcoin Berbalik Arah
Selain itu, posisi lindung nilai pada Bitcoin terlihat lebih berat. Tingkat short interest pada iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock dilaporkan mendekati level tertinggi tahun ini. Sebaliknya, short interest pada SPDR Gold Shares ETF masih berada di bawah rata-rata historis.
Rasio put-to-call open interest IBIT juga terpantau lebih tinggi, yang mengindikasikan investor masih menerapkan strategi perlindungan yang lebih agresif terhadap Bitcoin. Arus dana ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat juga menunjukkan pergerakan yang beragam.
ETF tersebut mencatat arus keluar sebesar US$450,4 juta pada 15 September dan kembali mencatat arus keluar US$295,9 juta pada 16 September. Namun, pada 17 September, arus dana berbalik menjadi positif sebesar US$159,5 juta. IBIT mencatat arus masuk terbesar, yaitu US$183,7 juta, sementara FBTC dan HODL masing-masing mencatat arus keluar sebesar US$16,6 juta dan US$7,6 juta.
Menurut JPMorgan, posisi lindung nilai Bitcoin yang lebih besar ini justru berpotensi menjadi katalis apabila investor mulai mengurangi posisi defensif mereka.
Pada saat penulisan, Bitcoin diperdagangkan melonjak 5,06% ke level US$ 81.100. Sementara itu, harga emas spot ditutup menguat 0,84% di level US$ 4.378,23 per ons troi.
Ikuti DailyFX.ID
