— Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan penguatan pada perdagangan Kamis (17/9/2026) pagi, meskipun Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga acuan dan mengisyaratkan kemungkinan kenaikan lanjutan tahun ini.

Menurut data CoinMarketCap pukul 07.45 WIB, harga Bitcoin tercatat naik 0,87% menjadi US$ 76.398 per koin. Nilai ini setara dengan sekitar Rp 1,35 miliar, mengacu pada kurs Rp 17.711 per dolar AS.

Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar aset kripto global mengalami peningkatan 0,98% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$ 2,6 triliun. Indeks CoinDesk 20, yang melacak kinerja 20 aset kripto terbesar, juga mencatat kenaikan sebesar 1,08%.

Aset kripto utama lainnya seperti Ethereum (ETH) menguat 0,88% menjadi US$ 2.422, sementara Binance Coin (BNB) melonjak 1,65% ke angka US$ 726.

Penguatan Bitcoin ini terjadi setelah pasar mencermati keputusan The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi rentang 3,75%-4%. Ini merupakan kenaikan pertama sejak Juli 2023.

Kenaikan suku bunga ini sebenarnya telah diantisipasi oleh pelaku pasar. Data CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan 25 basis poin mencapai 92% menjelang pengumuman The Fed, sedikit menurun dari sekitar 96% sehari sebelumnya.

Keputusan The Fed dan Proyeksi Suku Bunga

Ketua The Fed Kevin Warsh, dalam pernyataannya, menunjukkan nada yang cenderung hawkish. Ia menilai ekonomi Amerika Serikat menunjukkan kekuatan yang meningkat dan kondisi keuangan belum tergolong sangat ketat. “Saya akan kesulitan menggambarkan kondisi keuangan secara luas sebagai ketat,” ujar Warsh, menambahkan bahwa pandangan ini banyak disepakati oleh anggota komite.

Proyeksi terbaru dari The Fed juga membuka peluang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut. Sebanyak 16 dari 18 pejabat The Fed memproyeksikan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi pada tahun ini.

Kondisi pengetatan kebijakan moneter ini berpotensi menjadi tantangan bagi aset berisiko, termasuk aset kripto. Namun, Bitcoin sejauh ini menunjukkan ketahanan dengan mencatat penguatan.

Analis bursa kripto Bitget, Lewis Huang, berpendapat bahwa Bitcoin mampu menyerap dampak langsung dari keputusan The Fed lebih baik dibandingkan pasar saham. “Pasar sebelumnya sudah memperkirakan satu kali kenaikan, dan dot plot sekarang menunjukkan adanya rangkaian kenaikan,” jelas Huang.

Meskipun demikian, Huang menekankan bahwa jalur pengetatan kebijakan The Fed dapat kembali diuji jika tekanan inflasi yang bersumber dari sektor energi mulai mereda. Ia menyoroti kenaikan harga bensin yang hampir 4% dalam sebulan terakhir, serta lonjakan harga diesel yang mencapai 60% dan rekor tertinggi baru. Menurut Huang, kondisi ini menimbulkan risiko The Fed tetap melanjutkan kenaikan suku bunga padahal tekanan harga dari energi sebenarnya mulai mereda.