DailyFX.ID — Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan kenaikan pada perdagangan Jumat (18/9/2026) pagi. Namun, di balik penguatan tersebut, momentum bullish aset kripto unggulan ini mulai menunjukkan tanda-tanda meredup. Tekanan dari faktor makroekonomi global masih membayangi pasar kripto secara keseluruhan.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 06.50 WIB, harga Bitcoin tercatat naik 0,36% menjadi US$ 76.404 per koin, setara dengan sekitar Rp 1,35 miliar jika menggunakan asumsi kurs Rp17.765 per dolar AS.
Kapitalisasi pasar kripto global juga terpantau mengalami peningkatan sebesar 1% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$ 2,62 triliun. Indeks CoinDesk 20, yang mengukur kinerja 20 aset kripto terbesar, juga menunjukkan penguatan sebesar 0,97%. Aset kripto lain seperti Ethereum (ETH) melonjak 1,32% menjadi US$ 2.446, sementara Binance Coin (BNB) mencatat kenaikan lebih tinggi sebesar 1,71% menjadi US$ 737.
Kenaikan harga Bitcoin ini terjadi bersamaan dengan kebangkitan pasar saham Amerika Serikat (AS) yang berhasil pulih dari tekanan pasca keputusan Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga. Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$76.500 saat perdagangan Wall Street dibuka pada Kamis (17/9/2026).
Pada perdagangan yang sama, indeks S&P 500 tercatat naik 0,9%, sementara Nasdaq Composite menguat 1,5%. Pemulihan saham AS ini memberikan sentimen positif yang turut merembet ke aset kripto.
Meskipun harga Bitcoin kembali menguat, CryptoQuant menilai momentum penguatan tersebut mulai mendingin. Kondisi makroekonomi global disebut masih menjadi hambatan utama bagi kelanjutan reli Bitcoin yang sebelumnya berhasil mencapai 25% sepanjang bulan Agustus.
Faktor Penghambat Bitcoin
Kepala Riset CryptoQuant, Julio Moreno, menyatakan bahwa tren Bitcoin masih berada dalam fase bullish, namun momentum penguatan dan faktor makroekonomi menjadi penghambat dalam jangka pendek.
Salah satu indikator yang dipantau CryptoQuant, yaitu Bull Score Index, mengalami penurunan dari angka 80 menjadi 60. Angka 60 ini merupakan batas yang digunakan oleh indikator tersebut untuk mengindikasikan kondisi bullish.
“Bitcoin sedang mendingin, bukan berbalik arah. Bull Score 60 menjaga tren tetap bullish, tetapi melemahnya permintaan AS, meningkatnya arus masuk altcoin, serta risiko makro dalam sepekan mendatang mendorong konsolidasi,” demikian rangkuman dari laporan CryptoQuant.
Di sisi lain, pasar kripto masih dalam proses mencerna keputusan The Fed yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi rentang 3,75%-4% pada Rabu (16/9/2026). Kenaikan ini merupakan yang pertama kali terjadi sejak Juli 2023.
Kondisi suku bunga yang lebih tinggi berpotensi terus memberikan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Oleh karena itu, meskipun BTC kembali menguat ke atas level US$ 76.000, indikator dari CryptoQuant menunjukkan bahwa investor perlu mewaspadai fase konsolidasi dalam jangka pendek.
Ikuti DailyFX.ID
