— Nilai tukar rupiah (IDR) kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan Rabu, 16 September 2026. Rupiah melemah tipis 2 poin atau 0,01% ke posisi Rp 17.696 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp 17.694 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan bahwa pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Salah satunya adalah harga minyak dunia yang tetap tinggi akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Gangguan pasokan ini berlanjut setelah Arab Saudi dilaporkan menghentikan pemuatan di pelabuhan Yanbu. Keputusan ini diambil setelah eksportir minyak mentah terbesar dunia tersebut menutup pipa minyak Timur-Barat (East-West pipeline) di tengah serangan dari kelompok Houthi Yaman.

Selain itu, rupiah juga melemah dalam penantian pelaku pasar terhadap keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan pada Rabu (16/9/2026) waktu setempat. Pasar keuangan memproyeksikan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75%-4,00%.

Perhatian pelaku pasar akan tertuju pada proyeksi ekonomi terbaru dari The Fed serta komentar Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan.

Dari sisi domestik, rupiah juga tertekan menyusul laporan Bank Indonesia mengenai posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia yang mencapai US$ 453,4 miliar per Juli 2026. Jumlah tersebut setara dengan Rp 8.211,8 triliun dan menunjukkan pertumbuhan sebesar 4,9% secara tahunan (YoY).