DailyFX.ID — Harga emas justru menunjukkan penguatan pada perdagangan Kamis (17/9/2026), meskipun Federal Reserve (The Fed) baru saja menaikkan suku bunga acuan dan memberikan sinyal bahwa pengetatan kebijakan moneter akan berlanjut. Saat berita ini ditulis, harga emas tercatat naik 0,64% menjadi US$ 4.291,37 per ons troi. Sebelumnya, harga logam mulia ini sempat menyentuh level terendah dalam hampir enam minggu pada Rabu (16/9/2026).
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember justru mengalami penurunan sekitar 1,3% menjadi US$ 4.330,7 per ons troi. Pergerakan ini terjadi setelah pasar mencerna keputusan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, yang membawa kisaran suku bunga acuan menjadi 3,75%-4%.
The Fed juga mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga tambahan masih terbuka. Proyeksi ekonomi terbaru dari 18 pejabat The Fed menunjukkan bahwa setidaknya 16 di antaranya memperkirakan akan ada satu kali kenaikan suku bunga lagi sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun ini.
Secara umum, kenaikan suku bunga acuan biasanya memberikan tekanan pada harga emas. Hal ini disebabkan oleh sifat emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga suku bunga yang lebih tinggi membuat aset berbasis bunga menjadi lebih menarik bagi investor.
Pengaruh Faktor Teknikal dan Minyak
Analis pasar senior OANDA, Kelvin Wong, berpendapat bahwa kenaikan harga emas kali ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor teknikal. Menurutnya, pesan hawkish dari The Fed dinilai sudah cukup tercermin dalam harga emas sebelumnya.
“Jika harga minyak terus turun, hal itu dapat mendukung kenaikan harga emas, setidaknya dalam jangka menengah. Sampai hal itu terjadi, saya memperkirakan emas masih bergerak dalam rentang terbatas,” ujar Wong.
Harga minyak sendiri kembali melemah setelah adanya laporan bahwa Arab Saudi menawarkan tambahan kargo minyak mentah melalui Oman. Langkah ini berpotensi meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan, yang sebelumnya telah mendorong reli harga minyak.
Pergerakan harga minyak memiliki korelasi penting dengan emas. Penurunan harga energi dapat membantu meredakan tekanan inflasi, yang pada gilirannya berpotensi mengurangi kebutuhan bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka panjang.
Di sisi lain, penguatan dolar AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan masih menjadi faktor risiko bagi pergerakan harga emas. Oleh karena itu, kenaikan harga emas yang terjadi saat ini belum tentu menandakan perubahan tren jangka panjang.
Ikuti DailyFX.ID
