— Letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883 tercatat sebagai salah satu tragedi vulkanologi terbesar dalam sejarah modern, merenggut lebih dari 30.000 nyawa dan memicu gelombang tsunami setinggi 30 meter. Kini, perhatian publik kembali tertuju pada penerus gunung api legendaris tersebut, yakni Gunung Anak Krakatau.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru-baru ini mengumumkan temuan penting terkait kondisi dapur magma Anak Krakatau. Melalui analisis mendalam terhadap 16 sampel batuan dari tiga generasi Krakatau (Krakatau Purba, Krakatau Muda, dan Anak Krakatau), para peneliti menemukan perbedaan karakteristik magma Anak Krakatau yang signifikan dibandingkan para pendahulunya.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Aditya Pratama, menjelaskan bahwa meskipun secara mineralogi ketiga generasi Krakatau menunjukkan kemiripan, terdapat satu anomali material yang menjadi pembeda utama. “Dari segi mineralogi, relatif mirip antara sampel di Old Krakatau, Krakatau (muda), dan Anak. Hanya saja mungkin yang relatif membedakan itu di Anak Krakatau, kita temukan olivin,” ungkap Aditya dalam Geohazard Webinar BRIN yang digelar secara daring pada Senin (14/9/2026).

Penemuan mineral olivin dan perbedaan material magnetik ini menjadi kunci untuk memetakan struktur “dapur” magma gunung api tersebut. Dengan menggunakan metode geotermobarometri, BRIN mengidentifikasi bahwa Anak Krakatau menyimpan magmanya pada kedalaman yang sangat signifikan, berkisar antara 7,4 hingga 26,6 kilometer. Tekanan di kedalaman ini pun sangat tinggi, mencapai 185-665 MPa. Kondisi ini sangat berbeda dengan Krakatau Purba dan Krakatau Muda, yang dapur magmanya berada pada kedalaman jauh lebih dangkal sebelum akhirnya mengalami letusan besar.

Anak Krakatau Masih di Fase Inkubasi

Perbedaan kedalaman dapur magma ini menjadi parameter penting untuk menentukan fase aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini. Aditya Pratama memaparkan bahwa letusan pembentuk kaldera (caldera forming eruption) umumnya mengikuti pola yang berulang dan harus melalui tiga fase: inkubasi, pematangan (maturation), dan fermentasi.

Mengingat letak dapur magmanya yang masih sangat dalam, Anak Krakatau saat ini dipastikan baru berada pada fase inkubasi awal. Gunung api ini belum memiliki kantong-kantong magma di area dangkal yang biasanya menjadi indikator bahwa letusan besar sudah mendekat.

Potensi Tragedi 1883, Namun Jauh di Masa Depan

Menjawab pertanyaan mengenai potensi terulangnya letusan dahsyat seperti tahun 1883, secara ilmiah, hal tersebut memang dimungkinkan karena pola kaldera yang selalu berulang. Namun, publik tidak perlu mengkhawatirkan dalam waktu dekat. “Memang masih sama seperti yang akan dialami oleh ayah-ibunya, terjadi caldera forming eruption (letusan). Tapi, memang dari segi karakteristik kalau kita lihat sekarang, masih relatif cukup jauh untuk menuju arah itu,” tegas pakar vulkanologi tersebut.

Artinya, meskipun ancaman letusan dahsyat itu nyata dan magma terus terbentuk di dalam perut bumi, prosesnya akan memakan waktu yang sangat panjang. Gunung Anak Krakatau masih membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai fase puncak sebelum melepaskan energinya secara besar-besaran. Riset awal BRIN ini diharapkan menjadi modal penting untuk memahami pola erupsi gunung api tersebut dan merancang strategi mitigasi bencana geologi di masa depan, sehingga sejarah kelam 1883 tidak terulang kembali.