— JAKARTA – Sekitar 50.000 hektare lahan pertanian di Indonesia dilaporkan terdampak kekeringan akibat fenomena El Nino. Namun, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan bahwa kondisi ini belum mengganggu ketersediaan pangan nasional.

“Kekeringan yang masuk sekarang estimasinya sekitar 50.000-an hektar,” ujar Amran saat ditemui di Kementerian Pertanian, Senin (14/9/2026).

Menurut Amran, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produksi beras masih dalam kondisi aman. Lahan yang terdampak kekeringan mayoritas berada di wilayah dataran tinggi atau upland, baik di Pulau Jawa maupun di luar Jawa.

Untuk mengatasi dampak kekeringan, Kementerian Pertanian mengandalkan solusi pompanisasi dan jaringan irigasi. Pemerintah juga memprioritaskan penanaman di wilayah yang memiliki jaringan irigasi dan memaksimalkan lahan dengan sistem pengairan yang telah diperbaiki.

“Solusinya adalah kita pompanisasi, kemudian irigasi, irpom (irigasi pompa),” jelas Amran. Ia menambahkan, “Dengan El Nino sekarang, kita fokus tanami daerah irigasi. Yang sudah kita perbaiki irigasi, totalnya semua 3 sampai 4 juta hektar.”

Selain memperkuat sistem pengairan, Kementan juga menyiapkan strategi untuk mempertahankan produktivitas tanaman selama periode kering. Salah satu upaya adalah penggunaan benih yang dinilai lebih tahan terhadap kekeringan.

Amran juga menyoroti potensi metode pertanian modern atau Advanced Agricultural System (AAS) yang mampu menghasilkan produktivitas tinggi, berkisar antara 10 hingga 12 ton per hektar. Metode ini, menurutnya, telah menunjukkan hasil yang memuaskan, dengan rata-rata produksi mencapai 10 ton per hektar, bahkan bisa dua kali lipat dari metode konvensional.

Pemerintah juga telah menyiapkan pompa untuk wilayah yang masih memiliki sumber air, guna memastikan tanaman tetap memperoleh pasokan air yang cukup selama musim kering. “Nah, jadi insyaallah hitungan kita aman,” kata Amran.

Keyakinan pemerintah terhadap ketersediaan pangan nasional didukung oleh perhitungan stok dan produksi yang tersedia. Amran menyebut terdapat sekitar 3,8 juta hektare standing crop, yaitu tanaman yang masih berdiri dan dalam proses produksi.

Selain tanaman di lahan, persediaan beras juga tersebar di berbagai titik, meliputi hotel, restoran, rumah tangga, hingga gudang Bulog. “Standing crop ada kurang lebih tiga hampir 4 juta, 3,8 juta. Standing crop artinya yang tanaman berdiri sekarang. Kemudian, ada beras di hotel, horeka, hotel, restoran, dan rumah-rumah seluruh Indonesia. Nah, kemudian juga ada di Bulog. Totalnya 26 juta,” ujarnya.

Dengan konsumsi beras nasional sekitar 2,6 juta ton per bulan, Amran memperkirakan persediaan yang ada dapat menopang kebutuhan hingga beberapa bulan ke depan sebelum memasuki periode panen berikutnya. “Kita hitung. Kalau 2,6 juta per bulan, berarti 10 bulan kan? 10 bulan ke depan, sekarang September ya? Oktober, November, Desember, Januari, Februari. Panen puncak di Maret lagi. Jadi aman,” jelasnya.

Mengenai target produksi beras nasional yang sebelumnya diproyeksikan mencapai 34 juta ton, Amran menyatakan bahwa dampak El Nino sejauh ini belum signifikan terhadap target tersebut. “Ya masih aman. Kemarin posisinya sangat kecil, yaitu selisih 0,2. Masih aman,” tegasnya.

Untuk mengurangi risiko yang dihadapi petani akibat kekeringan, Kementan juga telah menyiapkan berbagai bentuk bantuan, meliputi penyediaan benih unggul, bantuan pengolahan lahan, alat dan mesin pertanian, serta dukungan pompanisasi. “Jadi jangan biarkan petani jalan sendiri,” pungkas Amran.