— JAKARTA – Rencana keterlibatan Danantara Indonesia bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam pendanaan proyek Lintas Raya Terpadu (LRT) Jakarta diharapkan mampu mempercepat integrasi sistem transportasi di wilayah DKI Jakarta. Langkah ini dinilai sebagai angin segar karena menawarkan alternatif pembiayaan non-anggaran tanpa harus mengandalkan skema obligasi atau pinjaman daerah.

Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menuturkan bahwa masuknya Danantara sebagai sovereign wealth fund akan memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jakarta tetap aman untuk menopang kebutuhan mendasar warga, seperti sektor pendidikan, kesehatan, hingga subsidi angkutan umum. Ia menambahkan, keterlibatan lembaga pembiayaan berskala nasional ini menegaskan bahwa fungsi sistem transportasi Jakarta telah melampaui batas administratif wilayah.

Terhubungnya jaringan LRT dengan simpul-simpul moda utama, seperti Kereta Cepat Whoosh di Halim, Stasiun Integrasi Manggarai, dan kawasan Jakarta International Stadium (JIS) akan mewujudkan perpindahan moda yang mulus atau seamless intramodality bagi masyarakat di kawasan aglomerasi Jabodetabek. Sebagai lembaga investasi, Danantara juga membawa perspektif bisnis dan pengelolaan komersial yang sehat, yang mendorong optimalisasi kawasan di sekitar stasiun melalui Transit-Oriented Development (TOD) serta pemanfaatan hak penamaan atau naming rights.

Djoko menambahkan, keberhasilan Jakarta dalam membangun sistem transportasi publik yang terintegrasi seharusnya menjadi inspirasi bagi daerah lain. Meskipun kapasitas fiskal daerah tidak sebesar Jakarta, peluang untuk membenahi angkutan umum tetap terbuka lebar selama ada kemauan politik dari kepala daerah. Saat ini, baru 46 dari 552 pemda se-Indonesia atau 8% yang sudah memiliki transportasi umum modern. Pemenuhan transportasi umum sebagai layanan dasar masyarakat sering kali belum menjadi prioritas utama para pimpinan daerah, padahal angkutan umum yang memadai membawa dampak transformatif bagi kemajuan wilayah di berbagai sektor.

Presiden Prabowo Subianto bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya telah meresmikan pengoperasian LRT Jakarta lintas Kelapa Gading–Manggarai pada Rabu (16/9). Rute sepanjang 12,2 kilometer ini menghubungkan 11 stasiun, yaitu Kelapa Gading, Boulevard Utara, Boulevard Selatan, Pulomas, Equestrian, Velodrome, Rawamangun, Pramuka, Matraman, Proklamasi, hingga Manggarai. Perjalanan dari Kelapa Gading menuju Manggarai dapat ditempuh dalam waktu sekitar 28 menit.

Sebelumnya, LRT Jakarta Fase 1A telah beroperasi melayani enam stasiun, yakni Stasiun Pegangsaan Dua, Stasiun Boulevard Utara, Stasiun Boulevard Selatan, Stasiun Pulomas, Stasiun Equestrian, dan Stasiun Velodrome. Kehadiran layanan LRT Jakarta hingga Manggarai semakin memperluas jangkauan sekaligus memperkuat peran LRT sebagai bagian dari jaringan transportasi publik Jakarta.

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengapresiasi langkah Pemprov DKI yang telah mendukung pembangunan dan pengembangan LRT Jakarta Fase 1B. Ia menyatakan bahwa Kementerian Perhubungan mengapresiasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta beserta seluruh pihak yang telah bekerja sama dalam menghadirkan LRT Jakarta hingga Manggarai. Kehadiran layanan ini tidak hanya menambah pilihan transportasi publik bagi masyarakat, tetapi juga memperkuat integrasi antarmoda di Jakarta.

Menhub Dudy menekankan bahwa pengembangan transportasi perkotaan perlu terus diarahkan pada terciptanya jaringan angkutan umum yang saling terhubung. Tujuannya adalah agar masyarakat memperoleh layanan perjalanan yang semakin mudah, selamat, aman, nyaman, dan efisien. Ia berharap, dengan integrasi yang baik, penggunaan angkutan umum semakin meningkat dan ketergantungan terhadap kendaraan pribadi secara bertahap dapat berkurang.

Keberadaan Stasiun LRT Manggarai memiliki peran penting dalam memperkuat integrasi antarmoda karena kawasan ini merupakan salah satu simpul utama transportasi di Jakarta. Menhub Dudy menambahkan bahwa transportasi publik yang baik bukan hanya soal membangun infrastruktur, tetapi bagaimana setiap layanan dapat terhubung dan memberikan kemudahan perjalanan dari titik awal hingga tujuan akhir. Pengembangan jaringan LRT Jakarta akan terus dilanjutkan pemerintah untuk memperluas konektivitas transportasi publik.

Setelah Kelapa Gading–Manggarai beroperasi, Pemprov DKI Jakarta akan melanjutkan pengembangan jaringan menuju Dukuh Atas sepanjang sekitar 2 kilometer. Pembangunannya ditargetkan mulai 2027 dan dapat beroperasi pada 2028. Koneksi ini akan semakin memperkuat keterhubungan LRT Jakarta dengan MRT, KRL, TransJakarta, LRT Jabodebek, dan Kereta Bandara, sekaligus menjadikan Dukuh Atas sebagai salah satu simpul utama integrasi transportasi publik di Jakarta.

Di sisi lain, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI mendukung perjalanan LRT Jabodebek dalam rangka mobilitas masyarakat yang akan menggunakan Kereta Cepat Whoosh dari Stasiun Halim pada keberangkatan awal. Uji coba telah dilakukan selama tiga hari, sejak Kamis (17/9) hingga Sabtu (19/9) pada relasi Dukuh Atas Bank Syariah Indonesia – Jatimulya. Perjalanan LRT Jabodebek dijadwalkan tiba di Stasiun Halim pada pukul 05.54 WIB, memberikan waktu sekitar 31 menit bagi masyarakat untuk melanjutkan perjalanan menuju stasiun Kereta Cepat Whoosh keberangkatan awal pukul 06.25 WIB.

Manager of Public Relation LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, mengatakan uji coba ini merupakan bagian dari upaya LRT Jabodebek dalam menghadirkan layanan transportasi publik yang semakin terintegrasi dengan kebutuhan mobilitas masyarakat. KAI ingin memastikan konektivitas antarmoda dapat semakin memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam merencanakan perjalanannya. Uji coba ini sekaligus memperkuat peran LRT Jabodebek sebagai salah satu bagian dari ekosistem transportasi publik yang terhubung dengan berbagai moda transportasi.

Dengan konektivitas LRT Jabodebek dengan Kereta Cepat Whoosh melalui Stasiun Halim, masyarakat dapat memanfaatkan transportasi publik secara berkesinambungan dalam perjalanan menuju berbagai tujuan. Bagi masyarakat yang akan menuju Bandung menggunakan Whoosh pada keberangkatan awal dari Stasiun Halim, uji coba perjalanan lebih awal ini memberikan pilihan untuk memulai perjalanan menggunakan LRT Jabodebek sebelum melanjutkan perjalanan dengan Kereta Cepat Whoosh. Selama uji coba, LRT Jabodebek akan melakukan evaluasi untuk terus meningkatkan layanan dan konektivitas antarmoda, dengan tetap mengutamakan keselamatan, keandalan, dan kenyamanan pengguna.