— JAKARTA – Danantara Indonesia diperkirakan akan mengakui tambahan kerugian atau impairment senilai kurang lebih Rp 100 triliun. Angka ini dibutuhkan untuk menyelesaikan proses transformasi perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang meliputi BUMN Karya, PT Pos Indonesia, dan Dana Pensiun (Dapen).

Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN, Dony Oskaria, mengakui bahwa transformasi BUMN Karya, PT Pos Indonesia, dan Dapen masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Danantara. Total nilai koreksi dan impairment yang berpotensi diakui dari perbaikan ketiga entitas tersebut diperkirakan mencapai angka tersebut.

Namun, Dony menegaskan bahwa angka Rp 100 triliun tersebut bukanlah dana segar yang akan digelontorkan Danantara. Melainkan, beban atau cost yang timbul dari proses koreksi, impairment, dan pemangkasan kerugian (cut loss) yang harus diakui dalam pembukuan sebagai konsekuensi dari perbaikan menyeluruh.

“Inilah cost yang harus kita tanggung dan inilah yang perlu kita sampaikan kepada masyarakat bahwa kurang lebih ke depannya mungkin akan ada lagi sekitar Rp 100 triliun untuk menyelesaikan (transformasi) ini,” ujar Dony baru-baru ini. Ia berharap angka tersebut tidak setinggi perkiraan awal, sehingga koreksi, impairment, dan cut loss dapat dilakukan secara optimal.

Untuk mencegah terulangnya masalah serupa di masa depan, Danantara telah melibatkan berbagai pihak, termasuk kejaksaan, BPKP, dan BPK, untuk bersama-sama memproteksi BUMN. “Jadi, inilah yang ke depan menjadi PR kita. Harapannya adalah kita bisa menyelesaikan transformasi BUMN Karya ini secepat mungkin. Begitupun dengan PT Pos dan Dapen,” ucap Dony.

Dony menambahkan, skala transformasi pada BUMN lainnya relatif lebih kecil dibandingkan dengan BUMN Karya, PT Pos Indonesia, dan Dapen. Sebagian besar adalah konsolidasi dan restrukturisasi yang dampaknya tidak signifikan. Ia memperkirakan sekitar 70% transformasi telah berhasil dan tersisa 30% untuk dibenahi.

Target Laba dan Dividen BUMN

Terhitung sejak berdiri pada 24 Februari 2025, Danantara telah mencatat cost perbaikan senilai Rp 135 triliun sebagai bagian dari transformasi perusahaan pelat merah. Beban ini terbayar dengan penutupan 290 perusahaan BUMN dari total 1.074 BUMN beserta anak dan cucu usahanya.

Pada tahun 2026, Danantara menargetkan penutupan 750 BUMN yang tidak produktif, sehingga menyisakan sekitar 300 BUMN. Dari transformasi ini, Danantara berhasil menghemat overhead sekitar Rp 50 triliun per tahun. Pengurangan jumlah perusahaan BUMN ini diapresiasi oleh Presiden RI.

Contohnya, PT Pertamina memangkas 124 perusahaan, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengurangi 50 dari 68 perusahaan menjadi 18 perusahaan, dan PT Pupuk Indonesia mengurangi lebih dari 40 entitas perusahaannya. “Ini bukan hal yang mudah. Makanya, apresiasi luar biasa disampaikan oleh Bapak Presiden kepada seluruh CEO BUMN yang hari ini menjadi satu kesatuan untuk melakukan proses perbaikan,” tutur Dony.

Untuk tahun 2026, Danantara menargetkan laba bersih dari pengelolaan perusahaan BUMN mencapai Rp 360 triliun. Target ini lebih tinggi dibandingkan realisasi laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp 326 triliun dan tahun 2024 sebesar Rp 186 triliun. Presiden RI Prabowo Subianto memproyeksikan setoran dividen BUMN pada tahun buku 2026 mencapai Rp 200 triliun, meningkat 40,55% dari dividen tahun 2025 sebesar Rp 142,3 triliun, dan naik tiga kali lipat ketimbang dividen tahun 2024 sebesar Rp 85,5 triliun.