— Pemerintah mengestimasi potensi investasi yang dibutuhkan untuk merealisasikan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt peak (GWp) mencapai angka sekitar Rp 1.140 triliun. Angka ini diungkapkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto.

Penyampaian ini dilakukan saat acara Peluncuran dan Groundbreaking Program PLTS 100 GWp yang diselenggarakan di Kawasan Gilimanuk, Jembrana, Bali, pada Selasa (25/7/2026). “Total investasinya, Bapak Presiden, dari 100 GW adalah kurang lebih sekitar US$ 71,3 miliar atau setara Rp 1.140 triliun lebih,” ujar Bahlil.

Lebih lanjut, Bahlil memaparkan bahwa program ambisius ini juga berpotensi memberikan penghematan subsidi energi hingga Rp 73,9 triliun setiap tahunnya. Penghematan ini akan dicapai melalui pengurangan konsumsi solar. Target utamanya adalah menggantikan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang masih sangat bergantung pada bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.

Selain efisiensi anggaran subsidi, pembangunan PLTS 100 GWp diproyeksikan memberikan kontribusi signifikan dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Diperkirakan, proyek ini mampu mengurangi emisi sebesar 140,16 juta ton CO2.

Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan program strategis PLTS 100 GWp di Monumen Operasi Gilimanuk, Jembrana, Bali. Acara peresmian tatap muka ini terhubung secara daring dengan tiga lokasi lain, yaitu PLTS Terapung Gajah Mungkur di Wonogiri, Jawa Tengah; PLTS Desa Sembur di Batam, Kepulauan Riau; serta PLTS Pulau Rengit di Bangka Belitung.

Proyek PLTS dan Battery Energy Storage System (BESS) Monumen Operasi Gilimanuk merupakan bagian dari Program Fat Burning Bali. Program ini dirancang khusus untuk menggantikan pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM) dengan energi bersih dari tenaga surya. PLTS di Bali sendiri memiliki kapasitas 198 MWp, didukung oleh kapasitas BESS sebesar 666 MWh. Proyek yang dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 211 hektare ini ditargetkan untuk mulai beroperasi pada tahun 2028.