— JAKARTA – Perekonomian Indonesia menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan tren positif. Namun, sejumlah pekerjaan rumah masih menanti untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan, terutama dalam hal daya beli masyarakat.

Rizal Taufikurahman, Ekonom sekaligus Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), mencatat bahwa rata-rata pertumbuhan ekonomi domestik dalam dua tahun terakhir berada di kisaran 5%. Stabilitas makroekonomi relatif terjaga, dengan inflasi yang terkendali dan realisasi investasi yang terus tumbuh.

“Menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo, stabilitas makro relatif terjaga. Pertumbuhan ekonomi masih di atas 5%, inflasi terkendali, dan investasi tetap kuat,” ungkap Rizal kepada B-Universe, Kamis (24/9/2026).

Meskipun demikian, tantangan signifikan terletak pada upaya memastikan pertumbuhan yang lebih produktif, inklusif, dan mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas. Dari sisi daya beli, Rizal menekankan bahwa inflasi yang terkendali tidak serta-merta mencerminkan kekuatan konsumsi rumah tangga.

Persoalan krusial yang dihadapi adalah apakah pendapatan riil masyarakat tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan biaya hidup. Oleh karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan ekonomi harus dilihat dari pertumbuhan upah riil, pendapatan disposabel, dan kemampuan rumah tangga untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan status ekonomi mereka.

Rizal menyoroti bahwa kelas menengah menjadi kelompok yang memerlukan perhatian serius. Jumlah mereka dilaporkan menyusut dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, padahal kelompok ini merupakan tulang punggung utama konsumsi domestik. Untuk itu, ia berharap pemerintah dapat merumuskan strategi yang lebih kuat untuk memperkuat daya beli.

Penguatan ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk penguatan sektor pekerja formal, peningkatan pendapatan, serta pengendalian beban kebutuhan dasar seperti pendidikan, perumahan, dan transportasi. “Kebijakan ekonomi perlu lebih kuat menjaga pekerjaan formal, pendapatan, serta menekan beban biaya pendidikan, perumahan, transportasi, dan kebutuhan dasar,” pungkas Rizal.