— Tiga desainer lulusan Ecole Duperre Paris menampilkan karya-karya inspiratif dalam perhelatan BRI JF3 Fashion Festival 2026 yang digelar di Summarecon Mal Kelapa Gading, Jakarta. Koleksi mereka mengeksplorasi tema perempuan, pertanian, hingga busana bersejarah.

Maurine Willebien melalui koleksi ‘Beauties’ berani mengeksplorasi tubuh perempuan dan menantang persepsi tentang pakaian intim. Ia mereinterpretasi kode pakaian intim menjadi pakaian luar melalui teknik layering dan hybridisasi. Willebien berupaya menghadapi hiperseksualitas perempuan dengan mengubah pakaian dalam menjadi pakaian luar, merefleksikan representasi dan pembebasan tubuh perempuan.

“Referensi saya beragam, mulai dari buku seperti Pour Britney karya Louise Chennevière, hingga film seperti Wild Diamond karya Agathe Riedinger, korset tahun 1960-an yang ditemukan di pasar loak, bahkan karya Botticelli,” ujar Willebien, menjelaskan inspirasinya yang bersumber dari kehidupan pribadi, pengalaman masa lalu, dan figur-figur perempuan di sekitarnya.

Sementara itu, Aurelien Voegelin mempersembahkan koleksi ‘3088 — the ear tag number of Magali, my cow’, yang berakar pada sejarah keluarganya sebagai petani selama empat abad. Koleksi ini dibangun dari riset ekstensif yang mencakup fotografi arsip keluarga, citra dokumenter, dan referensi lanskap pedesaan Prancis.

Voegelin juga mengumpulkan material langsung dari pertanian keluarganya, menerjemahkan bentuk, material, tekstur, dan objek sehari-hari menjadi bahasa fashion kontemporer. Setiap garmen dalam koleksinya adalah terjemahan dari observasi masa kecilnya.

Paul Vidal mengusung tema ‘Emballez-moi (Wrap Me Up)’, menggabungkan busana abad ke-17 dan ke-18 dengan estetika material pelindung kemasan. Koleksinya menghadirkan dialog antara warisan sejarah dan ekspresi kontemporer.

“Saya memiliki kebiasaan mengoleksi foto-foto lukisan yang saya temui di museum-museum di Prancis, Belanda, Belgia, hingga Jerman. Potret-potret dari abad ke-16 hingga ke-18 menjadi sumber inspirasi utama saya karena menampilkan karakter-karakter unik yang dibalut busana dengan siluet luar biasa,” kata Paul Vidal.

“Melalui koleksi ini, saya membayangkan bagaimana sosok-sosok eksentrik dalam lukisan tersebut akan ‘membungkus’ diri mereka jika hidup di masa kini. Volume kostum bersejarah diterjemahkan menggunakan estetika material pelindung seperti terpal, plastik transparan, dan pita perekat usang, sehingga menghadirkan perspektif baru tentang perlindungan, transformasi, dan memori,” tambah Paul.

Pendekatan Berkelanjutan

Para desainer ini juga menekankan pendekatan fashion yang berkelanjutan. Koleksi Willebien menggunakan hampir seluruhnya material ‘dead stock’ dari fashion house yang tidak terpakai, termasuk benang untuk knitwear. Tali lingerie dan elemen lainnya berasal dari upcycling dan material yang dipulihkan dari toko secondhand dan pasar loak.

Willebien juga berkolaborasi dalam pembuatan tas menggunakan Reishi, material alternatif kulit berbasis jamur dari mycelium, sebagai bagian dari eksplorasi material yang lebih bertanggung jawab. Setiap garmennya menjadi unik, dibuat dari material yang sudah ada dan ditransformasi melalui teknik artisanal.

Koleksi Aurelien Voegelin memprioritaskan serat alami, penggunaan kembali material, kerajinan, dan proses pewarnaan alami. Pendekatan ini menghargai praktik artisanal dan produksi skala terbatas, sebagai kontras terhadap logika ‘overproduction’ dalam industri fashion.