DailyFX.ID — Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menekankan pentingnya penguatan komunikasi kebijakan bagi Gubernur Bank Indonesia (BI) berikutnya. Di tengah gejolak ekonomi global, pasar membutuhkan penjelasan yang lebih komprehensif mengenai setiap keputusan bank sentral, bukan hanya sekadar pengumuman BI-Rate.
Presiden Prabowo Subianto telah mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Senin (10/9/2026). Surat presiden tersebut juga mencakup usulan calon Deputi Gubernur Senior BI.
Fakhrul menjelaskan bahwa pelaku pasar dan masyarakat perlu memahami alasan di balik setiap kebijakan yang diambil BI. Selain itu, arah kebijakan ke depan juga harus dikomunikasikan secara jelas agar pelaku ekonomi dapat mengantisipasi langkah-langkah yang akan diambil. “Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, kepastian komunikasi mempunyai nilai ekonomi yang sangat besar. Pasar tidak hanya membutuhkan keputusan yang tepat, tetapi juga membutuhkan pemahaman mengenai mengapa keputusan tersebut diambil, bagaimana berbagai instrumen digunakan secara bersama-sama, dan ke mana arah kebijakan berikutnya,” ujar Fakhrul dalam keterangannya, Senin.
Ia menambahkan, kebutuhan komunikasi yang lebih kuat menjadi semakin mendesak mengingat instrumen kebijakan BI kini semakin beragam. Bank sentral tidak hanya mengandalkan suku bunga acuan, tetapi juga memanfaatkan operasi moneter, pengelolaan likuiditas, stabilisasi nilai tukar, instrumen makroprudensial, hingga pendalaman pasar keuangan.
Oleh karena itu, komunikasi BI ke depan dinilai perlu menjelaskan keterkaitan dan penggunaan berbagai instrumen tersebut dalam mencapai sasaran kebijakan. “Ke depan komunikasi BI tidak cukup hanya menjelaskan BI Rate. Yang perlu dipahami pasar adalah keseluruhan policy mix, mulai dari operasi moneter, pengelolaan likuiditas, kebijakan nilai tukar, instrumen makroprudensial hingga pendalaman pasar keuangan,” tuturnya.
Menurut Fakhrul, penjelasan mengenai keseluruhan bauran kebijakan tersebut sangat penting agar perhatian pasar tidak hanya terpusat pada keputusan kenaikan atau penurunan BI-Rate. Pelaku pasar juga perlu memahami langkah BI dalam mengatur likuiditas, menjaga stabilitas rupiah, serta memanfaatkan instrumen lainnya untuk menjaga stabilitas perekonomian.
Tantangan komunikasi kebijakan diprediksi akan semakin besar seiring perubahan kondisi ekonomi global. Perkembangan teknologi, digitalisasi, pergeseran rantai pasok, hingga ketidakpastian geopolitik membuat arah kebijakan bank sentral perlu disampaikan secara lebih transparan kepada pasar dan masyarakat.
Dalam kondisi tersebut, Gubernur BI berikutnya dituntut tidak hanya mampu mengambil keputusan yang tepat, tetapi juga harus piawai dalam menjelaskan alasan, tujuan, serta keterkaitan dari berbagai kebijakan yang dijalankan.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah mengirimkan surat kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terkait pengajuan calon Gubernur Bank Indonesia. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi membenarkan bahwa Presiden hanya mengusulkan satu nama untuk mengisi posisi tersebut. “Namanya tunggal satu nama Bu Destry Damayanti,” ungkap Prasetyo kepada wartawan di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Selain calon Gubernur BI, surat presiden tersebut juga memuat nama calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Destry Damayanti saat ini menjabat sebagai pejabat sementara Gubernur BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari posisi tersebut pada 27 Juli 2026.
Ikuti DailyFX.ID
