— Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan pemerintahnya akan lebih mengandalkan peningkatan tekanan ekonomi terhadap Iran. Langkah ini dipilih sebagai pengganti operasi militer baru dalam waktu dekat.

“Kami melakukannya dengan pendekatan yang tidak terlalu mencolok,” ujar Trump dalam wawancara khusus Axios, Senin (10/8/2026). Ia menjelaskan, AS saat ini hanya melakukan negosiasi setengah jalan dengan Iran sembari memantau ketat kondisi perekonomian Iran yang kian memburuk.

Menurut Trump, Iran berada dalam posisi finansial yang rapuh akibat lonjakan inflasi yang tajam dan kehabisan dana segar. “Kami hanya mengawasi Iran dengan inflasi yang tinggi dan fakta bahwa mereka tidak memiliki uang,” tegas Trump. Ia menambahkan, kondisi keuangan yang memprihatinkan tersebut bahkan membuat pemerintah Iran kesulitan membayar gaji personel militernya.

Lebih lanjut, Trump menyebut blokade laut yang diterapkan militer AS menjadi salah satu faktor kunci yang memperparah krisis ekonomi dan meningkatkan tekanan bagi pemerintah Iran. Di sisi lain, dampak ekonomi dari konflik kawasan ini terhadap masyarakat Amerika Serikat dinilai mulai mereda, menyusul turunnya harga minyak dunia ke level sedikit di atas US$ 75 per barel.

“Ini akan berakhir dengan baik. Selalu berakhir dengan baik. Ini seperti permainan catur,” pungkas Trump menggambarkan ketegangan geopolitik dengan Iran.

Sebelumnya, AS dan Iran sempat menandatangani perjanjian kerangka kerja pada 18 Juni 2026 untuk memulai perundingan menuju kesepakatan final. Namun, proses diplomasi tersebut terhenti akibat perbedaan pandangan mengenai jaminan keamanan serta kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Eskalasi sempat mencapai puncaknya bulan lalu ketika pemerintah AS melancarkan serangan langsung ke wilayah Iran. Sebagai balasan, Iran menggempur pangkalan dan fasilitas militer AS yang berada di sejumlah negara Arab, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

Hubungan diplomatik antara AS dan Republik Islam Iran telah berada dalam titik nadir sejak AS menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2018 dan menerapkan kembali sanksi ekonomi skala penuh. Pengetatan sanksi ini menyasar sektor-sektor vital Iran, terutama ekspor minyak mentah, transaksi perbankan internasional, dan logistik perdagangan.

Konfrontasi yang semula berfokus pada sanksi ekonomi secara bertahap merembet menjadi gesekan militer terbuka di kawasan Timur Tengah. Selat Hormuz, jalur laut strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, menjadi arena perebutan pengaruh dan tindakan saling balas, mulai dari penyitaan kapal tanker hingga serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal.

Pendekatan tekanan ekonomi maksimum (maximum pressure) yang diterapkan AS bertujuan menekan kemampuan finansial Teheran dalam membiayai aktivitas militer serta program strategisnya di kawasan.