— Calon Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menjadi penerima terbesar dari Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Kebijakan ini telah mengembalikan sekitar Rp450 triliun likuiditas kepada perbankan hingga Agustus 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan Destry saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di hadapan Komisi XI DPR RI. Efektivitas KLM menjadi salah satu fokus perhatian anggota Komisi XI, yang mempertanyakan kesiapan transmisi kebijakan BI. Meskipun bank sentral telah menyalurkan insentif likuiditas dalam jumlah besar, pembiayaan kepada sektor tertentu, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dinilai belum bergerak secepat yang diharapkan.

Salah satu pertanyaan yang diajukan menyoroti realisasi insentif likuiditas BI sebesar Rp446,5 triliun, sementara UMKM masih menghadapi kendala dalam pertumbuhannya. Hal ini menimbulkan spekulasi apakah persoalan ekonomi saat ini lebih disebabkan oleh kekurangan likuiditas atau efektivitas transmisi kebijakan BI yang belum optimal.

Menjawab kekhawatiran tersebut, Destry menjelaskan bahwa KLM pada dasarnya adalah mekanisme BI untuk mengembalikan sebagian likuiditas kepada bank melalui pelonggaran kewajiban giro wajib minimum (GWM). Besaran pelonggaran ini kini dapat mencapai 6% dari dana pihak ketiga (DPK). “Dengan Kebijakan Likuiditas Makroprudensial kita yang totalnya adalah 6% dari GWM itu kita kembalikan kepada perbankan. Per Agustus itu sudah ada Rp450-an triliun kembali dananya ke perbankan,” ujar Destry.

Himbara Terima Porsi Terbesar

Destry secara spesifik menyebutkan bahwa porsi terbesar insentif likuiditas tersebut diterima oleh bank-bank Himbara. “Kalau kita lihat memang Himbara itu mendapatkan insentif KLM yang paling besar,” katanya.

Besarnya porsi yang diterima Himbara disebabkan oleh peran dominan bank-bank BUMN dalam mendorong ekspansi kredit nasional. Saat ini, pertumbuhan kredit nasional masih sangat ditopang oleh kelompok bank tersebut. “Sekarang growth kita ini ‘kan memang masih sangat di-drive oleh bank-bank Himbara. Nah, inilah yang kita ingin dorong supaya bank swasta juga mulai bisa menciptakan pertumbuhan kredit baru,” tambah Destry.

Data terbaru menunjukkan bahwa hingga minggu pertama Juli 2026, insentif KLM tercatat sebesar Rp431,9 triliun. Rinciannya, bank BUMN menerima Rp219,6 triliun, bank umum swasta nasional Rp172,5 triliun, bank pembangunan daerah Rp31,7 triliun, dan kantor cabang bank asing Rp8,1 triliun. Dana KLM ini diarahkan untuk sektor pertanian, industri dan hilirisasi, jasa dan ekonomi kreatif, konstruksi, properti, serta UMKM.

Kredit UMKM Masih Terbatas

Meskipun likuiditas yang disalurkan cukup besar, hal tersebut belum sepenuhnya terefleksi pada akselerasi kredit di seluruh segmen, terutama UMKM. Destry mengakui bahwa pertumbuhan kredit UMKM masih sangat rendah, hanya sekitar 1,6%, meskipun sebelumnya berada di angka negatif. “UMKM memang tumbuh sangat kecil, 1,6%, tapi dia dari negatif sebelumnya,” jelasnya.

BI berupaya mendorong penyaluran pembiayaan UMKM dengan memberikan insentif kepada bank yang meningkatkan kredit di sektor tersebut, salah satunya melalui pengurangan kewajiban GWM bagi bank yang memenuhi kriteria. Selain itu, BI memperkuat kebijakan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) yang memungkinkan bank dengan penyaluran pembiayaan inklusif menerbitkan instrumen yang dapat dibeli bank lain untuk memenuhi kewajiban RPIM.

Kebijakan KLM secara resmi bertujuan untuk memberikan insentif kepada bank agar meningkatkan kredit atau pembiayaan, termasuk kepada UMKM, koperasi, serta sektor inklusif dan berkelanjutan. Insentif ini diberikan melalui pengurangan giro bank di BI dalam pemenuhan GWM, dengan besaran yang dikaitkan pada kinerja pembiayaan dan respons bank terhadap arah suku bunga BI.

KLM Menopang Kredit Himbara

Destry menilai bahwa indikasi keberhasilan KLM terlihat dari perkembangan kredit perbankan. Pertumbuhan kredit pada Juli 2026 tercatat lebih dari 13%, dengan bank-bank Himbara menjadi kontributor terbesar. “Pertumbuhan bulan Juli kemarin kredit tumbuh 13% lebih, Pak, dan majority itu adalah bank Himbara. Sehingga kalau kita lihat berarti ada dana KLM kita yang sebenarnya menjadi sumber juga untuk pertumbuhan kredit dari bank Himbara tersebut,” ungkapnya.

Jawaban Destry menyoroti tantangan berikutnya bagi BI, yaitu bagaimana memastikan tambahan likuiditas tersebut diterjemahkan perbankan menjadi kredit baru yang efektif mengalir ke sektor riil. Distribusi manfaat KLM yang masih terkonsentrasi pada bank-bank agresif seperti Himbara, sementara bank swasta dan kredit UMKM masih perlu didorong, menunjukkan bahwa efektivitas KLM akan sangat bergantung pada seberapa jauh insentif tersebut mampu mempercepat penyaluran kredit kepada dunia usaha dan UMKM.