DailyFX.ID — JAKARTA – Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan bahwa dukungan bank sentral terhadap target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% tidak dapat dicapai hanya dengan melonggarkan kebijakan moneter secara agresif. Dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi harus tetap berjalan selaras dengan upaya menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Penegasan ini disampaikan dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Gubernur BI di hadapan Komisi XI DPR RI. Anggota Komisi XI sekaligus juru bicara Fraksi PDI Perjuangan, Harris Turino, mempertanyakan sikap BI jika ambisi mengejar pertumbuhan 8% menuntut pelonggaran moneter yang berisiko meningkatkan inflasi dan menekan nilai tukar rupiah. Ia menilai, stabilitas dan pertumbuhan tidak selalu berjalan beriringan, sehingga BI bisa dihadapkan pada pilihan sulit.
“Seandainya pertumbuhan ini didorong oleh pelonggaran moneter yang berlebihan, sementara BI memiliki pemahaman bahwa pelonggaran moneter ini bisa mengancam inflasi dan pelemahan nilai tukar, apakah BI akan mengikuti target pertumbuhan ini?” tanya Harris.
Pertanyaan serupa datang dari juru bicara Fraksi Partai Gerindra, Kamrussamad, namun dari perspektif berbeda. Ia meminta Destry menjelaskan instrumen kebijakan BI untuk membantu pemerintah mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029, mulai dari suku bunga hingga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kamrussamad juga meminta komitmen Destry untuk mengawal target tersebut jika terpilih menjadi Gubernur BI.
Menanggapi hal tersebut, Destry menyatakan bahwa permasalahan yang dihadapi bank sentral saat ini semakin kompleks. BI tidak bisa hanya mengandalkan satu instrumen untuk mendorong pertumbuhan sekaligus menjaga stabilitas. “Kita ini sekarang menghadapi masalah yang tidak biasa,” kata Destry.
Destry menjelaskan bahwa pengalaman negara-negara maju menunjukkan inflasi tinggi dapat terjadi bahkan ketika pertumbuhan ekonomi melambat, terutama akibat tekanan harga komoditas dan gangguan rantai pasok. Situasi ini menciptakan dilema bagi bank sentral, sebab menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi justru berpotensi semakin menekan pertumbuhan ekonomi.
“Ini yang menyebabkan mereka harus mem-balancing. Nah, ini di Bank Indonesia kami coba mem-balancing dengan berbagai kebijakan yang kami miliki. Makanya, kami menamakannya bauran kebijakan Bank Indonesia,” ujar Destry. Bauran kebijakan ini tidak hanya mengandalkan kebijakan moneter atau BI-Rate, tetapi juga mencakup kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran. Selain itu, BI menggunakan instrumen pendukung berupa pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing.
Dengan pendekatan ini, dukungan BI terhadap target pertumbuhan 8% tidak berarti BI-Rate harus terus diturunkan. Ruang pelonggaran moneter tetap harus mempertimbangkan risiko terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah, sementara dukungan pertumbuhan dapat diberikan melalui instrumen BI lainnya.
Destry juga menyoroti besarnya kebutuhan pembiayaan jika perekonomian Indonesia ingin tumbuh hingga 8%. Oleh karena itu, salah satu agenda yang ingin diperkuatnya adalah pendalaman pasar keuangan agar sumber pembiayaan pembangunan tidak hanya bertumpu pada sektor perbankan. “Indonesia ini sedang bertumbuh, apalagi dengan target pemerintah 8%, pasti akan butuh financing yang besar,” kata Destry.
Ia menambahkan bahwa pasar uang dan valuta asing Indonesia telah berkembang pesat dalam enam tahun terakhir. Aktivitas pasar uang meningkat sekitar enam kali lipat sejak 2020, sementara pasar valas tumbuh sekitar tiga kali lipat. Pasar yang makin dalam tidak hanya menyediakan sumber pembiayaan lebih besar, tetapi juga membantu menjaga stabilitas rupiah.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa dukungan BI terhadap pertumbuhan 8% tidak semata diterjemahkan melalui harga uang yang murah, melainkan juga melalui ketersediaan likuiditas, pendalaman pasar keuangan, kebijakan makroprudensial, dan stabilitas sistem pembayaran.
Destry memberikan contoh bagaimana BI menghadapi dilema antara stabilitas dan pertumbuhan. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) terakhir, tekanan terhadap rupiah memang cukup tinggi. Namun, BI tidak serta-merta merespons dengan menaikkan BI-Rate. Alasannya, pertumbuhan ekonomi domestik masih berada di bawah tingkat potensial, sehingga kenaikan suku bunga berisiko memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian.
“Walaupun tekanan pada rupiah juga tinggi, tapi kami tidak bisa menaikkan begitu saja BI Rate untuk men-support rupiah karena kami lihat bahwa kita punya PR, pertumbuhan kita ini masih di bawah potensial levelnya,” ujar Destry. Sebagai alternatif, BI menggunakan instrumen lain melalui pendalaman pasar uang dan valas, termasuk memberikan insentif dan biaya lindung nilai (hedging cost) yang lebih murah untuk mendorong aliran modal masuk. Langkah ini, menurut Destry, turut mendorong inflow ke SRBI maupun Surat Berharga Negara (SBN), sehingga menambah pasokan valuta asing di pasar.
BI juga menambah likuiditas di pasar melalui peningkatan transaksi repo. Destry menyebut langkah tersebut telah membantu menurunkan suku bunga pasar uang overnight dari level tertinggi sekitar 6,5% menjadi 6%, yang pada akhirnya diharapkan menurunkan biaya dana perbankan. Dengan demikian, jawaban Destry memberikan garis yang jelas: BI siap mendukung target pertumbuhan 8%, namun tidak akan membuka keran moneter tanpa batas. Ketika pelonggaran suku bunga berpotensi mengganggu rupiah dan inflasi, BI akan mengandalkan kombinasi instrumen lain untuk menopang pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas.
Ikuti DailyFX.ID
