— Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengindikasikan pergeseran strategi dalam menghadapi Iran, kini lebih memilih menekan ekonomi negara tersebut melalui sanksi ketimbang melancarkan serangan militer atau terburu-buru mencari kesepakatan diplomatik. Pendekatan yang diambil lebih bersifat “low-key” atau tidak mencolok, dengan fokus mengamati situasi Iran yang mengalami inflasi tinggi dan kekurangan dana.

“Kami cukup mengamati situasi Iran yang sedang dilanda inflasi besar dan kehabisan uang,” kata Trump kepada Axios. Meskipun opsi militer tetap terbuka, Trump menekankan bahwa dampak sanksi ekonomi menjadi prioritas utama. Ia mengklaim Iran bangkrut dan tidak mampu membayar tentaranya, serta menyebut tingkat inflasi di Iran telah melampaui 300%.

Trump juga menyatakan tidak terburu-buru mengambil tindakan militer lanjutan karena AS mengklaim memegang kendali penuh atas Selat Hormuz, jalur perairan vital yang menjadi titik panas geopolitik.

Kondisi Ekonomi dan Keterbatasan Opsi Militer

Secara faktual, Iran sempat memblokir jalur strategis tersebut, sementara pemerintah AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran. Pakar dari Brookings Institution, Michael O’Hanlon, menilai kondisi ekonomi Iran memang sangat rentan. Iran tidak dapat mengapalkan minyak dalam jumlah signifikan, masih tertekan sanksi, dan tidak bisa mengakses aset di luar negeri.

“Pertanyaannya adalah, apakah para pemimpin Iran benar-benar memedulikannya? Saya pikir mereka peduli, tetapi tidak sampai mengubah arah kebijakan secara drastis,” ujar O’Hanlon. Langkah Trump ini dinilai sebagai pergeseran taktis setelah sebelumnya melontarkan ancaman serangan besar-besaran sejak konflik yang melibatkan Israel pecah. Pada akhir Juli, pemerintah AS meluncurkan sanksi baru yang menyasar Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa para penasihat Trump menyajikan data dampak sanksi yang membuat presiden mempertimbangkan pengetatan pembatasan ekonomi. Analis menilai pergeseran strategi ini juga menandakan terbatasnya opsi militer AS, terutama di tengah laporan mengenai penipisan cadangan amunisi militer AS.

Tanggapan Iran

Pemerintah Iran menilai dorongan sanksi baru dari AS sebagai bentuk keputusasaan dan “kemunduran” dalam diplomasi. Juru Bicara Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan, “Setiap kali Washington terbukti tidak mampu menjalankan diplomasi, mereka mundur ke langkah sanksi. Ketika sanksi itu gagal membuahkan hasil, mereka hanya menambah dosisnya.”

Menanggapi perbandingan Trump mengenai konflik kedua negara seperti permainan catur, Baqaei menegaskan kesiapan negaranya. “Rakyat Iran telah membuktikan mereka adalah pemain catur profesional,” tegas Baqaei seperti dikutip AFP.

Penggunaan sanksi ekonomi telah menjadi instrumen utama kebijakan luar negeri AS terhadap Iran selama puluhan tahun, terutama sejak Revolusi Islam 1979. Sanksi ini dirancang untuk mengisolasi Iran dari sistem keuangan internasional, membatasi ekspor minyak, dan membekukan aset negara serta entitas militer Iran.

Meskipun sanksi ekonomi berhasil menekan nilai tukar mata uang rial dan memicu inflasi tinggi, efektivitasnya dalam mengubah keputusan politik Iran seringkali diperdebatkan. Sebagai bentuk perlawanan, Iran mengembangkan strategi ekonomi perlawanan dengan memperkuat perdagangan informal, mengalihkan alur logistik melalui mitra regional, serta memanfaatkan posisi geografis strategisnya seperti Selat Hormuz untuk memberikan tekanan balik terhadap perekonomian global.