DailyFX.ID — JAKARTA – Pemerintah Iran secara tegas membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai penguasaan penuh atas Selat Hormuz. Iran menyatakan jalur pelayaran strategis tersebut tetap diblokir dan tidak akan dibuka sampai syarat-syarat yang diajukan dipenuhi.
Penegasan ini disampaikan otoritas Teluk Selat Persia Iran melalui unggahan di platform X. “Klaim dan unggahan berulang dari pejabat AS yang menyebut Selat Hormuz tidak lagi diblokir tidak mengubah kenyataan Selat Hormuz tetap diblokir dan tidak akan dibuka kembali sampai syarat-syarat Iran diterima,” tulis otoritas tersebut, seperti dikutip dari CNBC Internasional.
Pernyataan tersebut merupakan respons terhadap klaim Trump di platform Truth Social yang menyatakan AS memegang kendali penuh atas perairan strategis tersebut dan berniat mempertahankannya.
Di tengah perseteruan klaim ini, data pelacakan kapal dari firma intelijen perdagangan Kpler menunjukkan penurunan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz ke titik terendah dalam hampir tiga bulan terakhir. Analisis data Kpler mencatat rata-rata transit harian kapal kargo dan tanker minyak hanya sekitar 13 kapal per hari dalam lima hari terakhir.
Angka ini merupakan yang terendah sejak 12 Mei 2026, menandai penurunan drastis hingga 90% dibandingkan rata-rata harian 130 kapal sebelum eskalasi militer AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Ketegangan antara kedua negara dilaporkan semakin meruncing akibat sikap keras dalam negosiasi. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran telah menetapkan sejumlah syarat berat untuk membuka kembali Selat Hormuz, termasuk penghentian blokade laut oleh AS, pencabutan sanksi ekonomi, penarikan pasukan militer AS dari wilayah tersebut, serta pembayaran ganti rugi perang. Washington juga melayangkan tuntutan serupa.
Sementara itu, Penasihat Senior Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mohammad Reza Naqdi, menyatakan bahwa Iran berada dalam posisi yang unggul. Ia menilai militer AS menunjukkan kebingungan strategi dengan terus-menerus mengubah tujuan konflik, mulai dari rencana invasi ke Pulau Kharg hingga pembukaan Selat Hormuz.
Naqdi menegaskan strategi Iran saat ini berfokus pada pembentukan daya tangkal (deterrence). Salah satu caranya adalah memperpanjang durasi konflik untuk memicu efek penyusutan sumber daya (attrition) pada lawan, sehingga pihak mana pun yang berniat menyerang Iran harus menanggung risiko dan biaya yang sangat tinggi.
Selat Hormuz merupakan jalur laut tersempit namun paling krusial bagi perdagangan minyak dunia. Jalur ini menghubungkan produsen minyak Teluk Persia dengan pasar global di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Diperkirakan sekitar sepertiga dari total pasokan minyak mentah jalur laut dunia melintasi selat sepanjang 21 mil laut ini setiap harinya.
Mengingat posisinya yang sangat strategis, gangguan mobilitas atau blokade militer di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia, krisis energi global, serta mengganggu rantai pasok komoditas penting lainnya. Oleh karena itu, stabilitas di perairan ini selalu menjadi fokus utama dalam peta geopolitik dan ekonomi internasional.
Ikuti DailyFX.ID
