DailyFX.ID — Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik tajam terhadap Iran, menyebut mereka sebagai negosiator yang licik. Trump mengungkapkan bahwa AS sedang mempertimbangkan berbagai opsi terkait konflik yang sedang berlangsung, mulai dari membiarkan ekonomi Iran terus memburuk hingga melancarkan serangan militer skala besar. “Saya pada dasarnya sedang bernegosiasi. Mereka adalah negosiator yang sangat licik,” ujar Trump.
Sikap Trump terlihat berubah-ubah, antara ancaman eskalasi militer dan klaim bahwa kesepakatan damai semakin dekat. Otoritas Pakistan sebelumnya menyebut AS dan Iran telah mendekati kesepakatan tertentu, sementara Qatar menyatakan pembicaraan mengenai pengelolaan Selat Hormuz telah berada pada tahap lanjut. Laporan mengenai serangan baru terhadap armada pelayaran di perairan regional masih terus bermunculan.
Salah satu strategi yang dijalankan AS saat ini adalah membiarkan ekonomi Iran memburuk di bawah tekanan sanksi dan pembekuan aset. “Secara ekonomi, kondisi mereka sangat kacau. Mereka tidak bisa meminjam uang. Kami mengendalikan uang mereka, aset yang pernah mereka miliki, dan mereka punya banyak. Kami memiliki kendali penuh atas hal itu. Saya adalah ‘bankir’ mereka,” tegas Trump, merujuk pada pembekuan aset-aset Iran oleh AS.
Meskipun demikian, Trump tidak menampik opsi ekstrem lainnya. Dalam wawancara tersebut, ia juga menepis kekhawatiran publik terkait menipisnya amunisi tempur militer AS. Menanggapi laporan mengenai menyusutnya stok rudal jarak jauh berpresisi tinggi akibat pertempuran intensif, Trump menegaskan industri pertahanan AS tengah dipacu untuk memproduksi amunisi secara masif dan menyalahkan pemerintahan pendahulunya.
“Stok amunisi kita aman… Namun alasan jumlahnya sempat menurun, dan kini kita memproduksinya secara gila-gilaan, adalah karena dia (Joe Biden) memberikan bantuan senilai US$ 300 miliar ke Ukraina,” ungkap Trump.
Konflik militer langsung antara AS dan Iran telah meluas sejak akhir Februari 2026, memicu guncangan hebat pada stabilitas geopolitik dan pasar energi global. Ketegangan berlanjut di sepanjang rute pelayaran vital Selat Hormuz, tempat di mana gangguan maritim dan serangan terhadap kapal tanker kerap memicu lonjakan harga minyak dunia.
Meskipun diplomasi internasional yang dimediasi oleh negara-negara seperti Qatar dan Pakistan terus diupayakan untuk mengurai krisis, dinamika negosiasi tetap diwarnai ketidakpastian. Di tengah tekanan inflasi global dan ancaman krisis cadangan amunisi pertahanan, AS terus menggabungkan strategi penekanan ekonomi melalui pembekuan aset dengan retorika ancaman militer guna menekan posisi tawar Iran.
Ikuti DailyFX.ID
