— JAKARTA – Dua bank investasi raksasa asal Amerika Serikat, Goldman Sachs dan JPMorgan, memprediksi Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) akan menaikkan suku bunga acuannya dalam pertemuan pekan ini. Proyeksi ini muncul menyusul rilis data inflasi terbaru yang menunjukkan tekanan harga masih bertahan tinggi.

Perubahan pandangan ini membuat kedua lembaga keuangan tersebut bergabung dengan pengamat pasar lain yang kini memiliki pandangan lebih hawkish. Indikator pergeseran ini dipicu oleh data inflasi harga konsumen dan produsen Amerika Serikat untuk Agustus 2026 yang melampaui ekspektasi. Kondisi ini diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus US$ 100 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Goldman Sachs secara resmi membatalkan perkiraan sebelumnya yang memproyeksikan suku bunga akan dipertahankan. Ekonom Goldman Sachs, David Mericle, memperkirakan kenaikan sebesar 25 basis poin (bps) akan terjadi pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang dijadwalkan pada 15-16 September 2026. Goldman menilai pejabat The Fed lebih memilih untuk merespons ekspektasi pasar daripada memberikan kejutan dengan menunda kenaikan.

Sementara itu, JPMorgan memproyeksikan kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada September 2026, diikuti dengan kenaikan lanjutan pada Desember 2026. Tim ekonom JPMorgan yang dipimpin oleh Michael Feroli menyatakan bahwa kombinasi lonjakan imbal hasil obligasi, kenaikan harga energi, dan data inflasi yang kuat menjadikan opsi kenaikan suku bunga acuan sebagai langkah yang rasional untuk dieksekusi.

JPMorgan juga merevisi naik estimasi suku bunga acuan jangka panjang menjadi 3,25%. Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperhitungkan peluang sebesar 87% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada bulan ini, sebuah angka yang melonjak tajam dari perkiraan sebelumnya yang hanya 70%.

Upaya The Fed untuk menekan laju inflasi menuju target 2% menghadapi tantangan signifikan akibat dinamika pasar energi global dan ketahanan harga di tingkat konsumen. Setelah sempat menunjukkan tren penurunan, tekanan inflasi kembali membayangi seiring memanasnya situasi geopolitik Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga komoditas utama.

Volatilitas ini memicu kekhawatiran akan terjadinya gelombang inflasi sekunder yang sulit dikendalikan apabila otoritas moneter menghentikan pengetatan kebijakan terlalu dini. Kenaikan suku bunga acuan dipandang sebagai instrumen krusial untuk menjaga ekspektasi inflasi masyarakat dan pelaku usaha tetap terkendali, sekaligus menstabilkan sistem keuangan di tengah risiko ketidakpastian ekonomi global.