DailyFX.ID — Pasar emas menghadapi aksi jual yang signifikan, dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat ke level tertinggi dalam hampir dua dekade. Kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh tekanan inflasi yang mendorong Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga.
Meskipun demikian, Commerzbank, sebuah bank asal Jerman, memprediksi bahwa harga emas akan tetap kuat dan mendapatkan dukungan. Thu Lan Nguyen, Kepala Riset Komoditas di Commerzbank, menyatakan bahwa pasar kini memperhitungkan kemungkinan 90% kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.
“Selain itu, ketegangan yang kembali memanas di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak dan, sebagai konsekuensinya, meningkatkan ekspektasi suku bunga secara lebih luas, tidak hanya di Amerika Serikat. Dengan latar belakang ini, cukup mengejutkan bahwa harga emas belum mengalami tekanan yang lebih signifikan,” ujar Nguyen dalam catatan risetnya.
Saat ini, harga emas telah turun di bawah US$ 4.300 per troy ounce, dengan harga emas spot terakhir diperdagangkan melemah 0,06% pada level US$ 4.290 per troy ounce.
Nguyen menjelaskan bahwa ketahanan harga emas diperkirakan didukung oleh langkah pasar untuk melakukan lindung nilai (hedging). Hal ini dilakukan untuk melindungi diri dari potensi benturan antara Federal Reserve dan pemerintahan Presiden Donald Trump, yang dikabarkan telah melobi bank sentral untuk menurunkan suku bunga demi mendukung perekonomian.
Meskipun suku bunga yang tinggi membebani harga emas dengan meningkatkan biaya peluang kepemilikan logam mulia tersebut, Commerzbank melihat risiko penurunan yang terbatas bagi emas hingga akhir tahun 2026. Pada Juli 2026, Commerzbank telah merevisi perkiraannya pada emas, memprediksi harga akan berakhir di kisaran US$ 4.500 per troy ounce pada akhir tahun, turun dari perkiraan Juni sebesar US$ 4.800 per troy ounce.
Lebih lanjut, Nguyen menambahkan bahwa pandangan bullish (optimistis) jangka panjang bank tersebut tetap terjaga karena faktor-faktor pendorong struktural yang memicu reli emas di awal tahun masih bertahan. Di sisi lain, meningkatnya utang pemerintah di sejumlah negara maju telah memicu kekhawatiran mengenai keamanan jangka panjang obligasi pemerintah, yang semakin memperkuat daya tarik emas sebagai aset independen dan bebas dari risiko gagal bayar.
Ikuti DailyFX.ID
