DailyFX.ID — Harga emas sempat mengalami penurunan di bawah US$ 4.300 per troy ounce sebelum kembali menembus angka tersebut, namun para pakar meyakini emas akan tetap menjadi aset incaran investor. Ryan McIntyre, Presiden Sprott Inc, berpendapat bahwa kondisi utang global yang meningkat, ketidakpastian geopolitik, dan tantangan fiskal global dapat mendorong investor untuk kembali mempertimbangkan peran emas sebagai instrumen diversifikasi portofolio.
Menurut McIntyre, permintaan investasi emas yang lebih luas dapat dipicu oleh penilaian ulang terhadap risiko keuangan. Pemicu ini bisa berupa kenaikan imbal hasil obligasi atau pelemahan pasar saham. Ia mencatat bahwa saat ini investor cenderung enggan mengevaluasi kembali valuasi portofolio mereka, meskipun imbal hasil jangka panjang telah mengalami peningkatan.
McIntyre juga menyoroti kekhawatiran yang semakin besar mengenai keberlanjutan fiskal Amerika Serikat. Ia menekankan pentingnya mencermati hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan beban bunga pemerintah yang terus membengkak. “Pandangan saya adalah begitu beban bunga melampaui tingkat pertumbuhan nominal di Amerika Serikat, maka masalah akan muncul karena Anda secara harfiah bahkan tidak mampu membayar bunganya. Pertumbuhan ekonomi tidak cukup kuat untuk mengimbangi beban bunga tersebut,” jelasnya.
Prospek fiskal diperkirakan akan tetap tidak stabil sampai pemerintah melakukan penyesuaian mendasar terhadap belanja defisit. Namun, McIntyre menambahkan bahwa pengetatan fiskal yang signifikan dapat melemahkan pertumbuhan ekonomi, sehingga menciptakan dilema kebijakan yang semakin rumit.
Dalam konteks ini, McIntyre berpendapat bahwa argumen konvensional yang menyatakan suku bunga lebih tinggi meningkatkan biaya peluang emas menjadi kurang relevan seiring meningkatnya risiko fiskal. Ia menambahkan bahwa masalah fiskal tidak hanya dialami oleh AS. Risiko fiskal di sejumlah negara dengan ekonomi dan mata uang terbesar di dunia semakin memperkuat posisi emas sebagai aset yang tidak memiliki kewajiban negara (sovereign liability) yang menyertainya.
“Justru itulah mengapa emas akan menjadi katup pelepas tekanan, karena memang tidak ada alternatif lain,” sebutnya.
Meskipun kondisi jangka panjang tetap mendukung emas, para investor masih menghadapi hambatan penting dalam waktu dekat seiring antisipasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Namun, McIntyre tidak memperkirakan kenaikan suku bunga akan mengubah arah pergerakan harga emas secara signifikan, mengingat kebijakan moneter yang lebih ketat sebagian besar sudah diperhitungkan oleh pasar.
“Jika mereka menaikkan suku bunga, apakah menurut saya harga emas akan turun? Tidak juga. Kalaupun turun, mungkin hanya untuk satu hari,” katanya. “Jika mereka tidak menaikkan suku bunga, maka harga emas kemungkinan akan naik,” bebernya.
Alih-alih berfokus pada ekspektasi suku bunga dari bulan ke bulan, McIntyre menyarankan investor untuk tetap mencermati tren fiskal yang memburuk.
Ikuti DailyFX.ID
