— Analis memproyeksikan harga emas dunia akan terus berfluktuasi, namun menunjukkan potensi kenaikan pada pekan mendatang. Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures, memperkirakan level resistance pertama emas berada di US$ 4.429 per troy ounce, dengan kemungkinan mencapai US$ 4.533 per troy ounce jika terus menguat. Sebaliknya, jika terjadi koreksi, level support pertama berada di US$ 4.333 per troy ounce, dan dapat turun ke US$ 4.250 per troy ounce.

Pergerakan harga emas dipengaruhi oleh sentimen geopolitik global, kebijakan politik Amerika Serikat menjelang pemilu sela November, serta kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat, dengan pergeseran fokus dari Selat Hormuz ke Laut Merah, di mana kelompok Houthi berupaya menguasai wilayah Yaman yang dikuasai pasukan pro-pemerintah. Serangan rudal dan drone Houthi ke ibu kota Arab Saudi mengindikasikan kemajuan teknologi persenjataan mereka, mendorong Arab Saudi meminta bantuan dari Turki dan Pakistan, yang turut memicu kenaikan harga minyak mentah.

Ibrahim menambahkan bahwa konflik antara Arab Saudi dan Houthi merupakan respons atas keterlibatan Arab Saudi dalam urusan Yaman. Di Selat Hormuz, Iran dan Amerika Serikat saling mengklaim pengawasan. Sementara itu, perang antara Rusia dan Ukraina di Eropa Timur terus berlanjut, meskipun Presiden Putin menyatakan niat untuk menjaga hubungan baik dengan negara-negara NATO. Serangan sporadis Rusia terhadap kota-kota besar Ukraina masih terjadi.

Dalam ranah kebijakan Amerika Serikat, dinamika politik menjelang pemilu sela November semakin memanas antara Partai Republik dan Partai Demokrat. Ketegangan ini berpusat pada isu kerja sama dengan Israel, termasuk pemberian senjata canggih oleh pemerintahan Trump. Ibrahim memperkirakan Partai Demokrat memiliki peluang 60-40% untuk memenangkan pemilu sela, mendorong Partai Republik di bawah Trump untuk berkonsolidasi dan mencari cara memenangkan hati pemilih dengan janji imbalan dana.

Situasi ini memicu ketegangan politik di Amerika dan mendorong Bank Sentral Global memindahkan cadangan emasnya dari Amerika ke Eropa, khususnya London. Kebijakan The Fed sendiri menunjukkan mayoritas deputi menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Namun, Trump memberikan tekanan agar suku bunga tidak hanya dinaikkan tetapi juga diturunkan lebih dari 100 basis poin di masa mendatang. Intervensi Trump terhadap penasihat The Fed, Kevin Warsh, mengenai kebijakan suku bunga ini menimbulkan kegelisahan di pasar dan mendorong pembelian logam mulia.

Kenaikan harga emas yang dipicu oleh intervensi Trump dan ketegangan geopolitik di Amerika Serikat diperkirakan akan berdampak positif pada mata uang rupiah, yang berpotensi kembali menembus level Rp 18.000 per dolar AS. Ibrahim menilai, jika rupiah kembali melemah di atas Rp 18.000, maka harga logam mulia berpeluang menuju level Rp 2.820.000 per gram.