— Harga minyak mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Kamis (17/9/2026), setelah sebelumnya sempat menembus US$ 105 per barel. Pasar menunjukkan tanda-tanda kelegaan seiring munculnya laporan mengenai penambahan pasokan minyak dari Arab Saudi ke pasar global. Meskipun demikian, potensi gangguan pasokan akibat konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah tetap menjadi perhatian.

Menurut laporan Reuters, harga minyak Brent tercatat ditutup turun US$ 1,01 atau 0,95% menjadi US$ 104,82 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga mengalami penurunan sebesar 52 sen atau 0,5%, berakhir di US$ 101,91 per barel.

Kedua acuan harga minyak tersebut sebelumnya telah mengalami penurunan sekitar 3% pada perdagangan Rabu. Pada Kamis, harga Brent sempat merosot lebih dari US$ 3, mencapai level terendah sejak 10 September, sedangkan WTI turun lebih dari US$ 3 ke level terendah sejak 11 September.

Penurunan harga ini dipicu oleh laporan bahwa Arab Saudi menawarkan lebih banyak kargo minyak mentah kepada penyuling di Asia melalui mekanisme transfer antarkapal di lepas pantai Sohar, Oman. Tambahan pasokan ini diharapkan dapat mengimbangi sebagian gangguan yang timbul akibat serangan terhadap pipa East-West milik Saudi.

Arab Saudi dilaporkan juga sedang berupaya memulihkan sekitar setengah kapasitas pipa East-West dalam beberapa hari ke depan. Bloomberg memberitakan bahwa upaya pemulihan ini dilakukan setelah pipa yang menghubungkan wilayah timur Saudi dengan Laut Merah terhenti akibat serangan drone pada pekan lalu.

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak ke level tertinggi dalam sekitar empat bulan. Lonjakan ini terjadi setelah sumber dari industri pelayaran melaporkan penghentian sementara pengiriman minyak mentah dari terminal ekspor Saudi di Laut Merah, Yanbu. Riyadh juga dikabarkan membatalkan sejumlah pengiriman minyak kepada pelanggan di Eropa.

Pipa East-West berfungsi menyuplai minyak ke Yanbu. Apabila penutupan berlangsung lama, gangguan ini berpotensi memangkas hingga 4% pasokan minyak global. Tiga stasiun pompa yang melayani pipa East-West dilaporkan rusak akibat serangan pada pekan lalu. Berdasarkan penilaian tiga sumber di sektor minyak dan keamanan, waktu perbaikan pipa tersebut masih belum jelas.

“Pelemahan harga minyak berlanjut pada Kamis karena kekhawatiran terhadap gangguan pasokan Timur Tengah mulai mereda,” ujar Senior Market Strategist platform perdagangan Exness, Christopher Tahir.

Penurunan Harga Terbatas

Menurut Tahir, peningkatan aliran minyak melalui pengiriman lepas pantai tambahan dari Oman serta upaya pemulihan pipa East-West menjadi faktor utama yang meredakan kekhawatiran pasar. Namun, ia menambahkan bahwa pasar fisik minyak masih dalam kondisi ketat, sehingga ruang penurunan harga cenderung terbatas.

Lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz terus menunjukkan penurunan, sementara ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi meningkatkan risiko gangguan baru terhadap jalur pelayaran Laut Merah dan infrastruktur energi di kawasan tersebut.

DBS Bank memperkirakan, dalam skenario dasarnya, ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akan mereda pada kuartal IV. Kondisi ini diperkirakan dapat membuat harga minyak Brent stabil di kisaran US$ 85-US$ 95 per barel.

Selain gangguan pasokan minyak mentah, pengetatan pasokan diesel juga mulai menjadi sumber tekanan baru di pasar energi. Gangguan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah dan Rusia telah membatasi ketersediaan bahan bakar.

Kontrak berjangka gasoil Eropa, yang merupakan salah satu acuan harga diesel, ditutup pada rekor tertinggi pada Selasa. Kontrak diesel ultra-low sulfur AS juga ditutup pada level rekor.

Di Rusia, serangan drone Ukraina dilaporkan merusak sebuah kilang minyak di Kota Yaroslavl dan memicu kebakaran. Gubernur regional Yaroslavl, Mikhail Yevrayev, menyatakan bahwa kebakaran tersebut kemudian berhasil dipadamkan.