— Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) mengalami pelemahan signifikan sepanjang pekan lalu, tepatnya pada periode 14 hingga 18 September 2026. Tercatat, mata uang Garuda tergerus 89 poin atau 0,50%, bergeser dari posisi Rp 17.669 menjadi Rp 17.758 per dolar AS.

Perdagangan awal pekan, Senin (14 September 2026), dibuka dengan penguatan tipis 6 poin (0,03%) ke level Rp 17.605. Namun, laju rupiah berbalik arah menjelang penutupan sesi, ditutup melemah 58 poin (0,33%) ke angka Rp 17.669.

Memasuki Selasa (15 September 2026), rupiah sempat dibuka menguat 1 poin (0,01%) di level Rp 17.668. Perhatian pasar saat itu tertuju pada serah terima jabatan Menteri Keuangan yang baru, Suahasil Nagara, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Meski demikian, pada penutupan perdagangan, rupiah kembali melemah 25 poin (0,14%) ke level Rp 17.694.

Hari Rabu (16 September 2026) menunjukkan tren pelemahan yang berlanjut. Rupiah dibuka melemah 36 poin (0,20%) di level Rp 17.730 dan ditutup nyaris stagnan dengan pelemahan 2 poin (0,01%) ke angka Rp 17.696.

Pada Kamis (17 September 2026), pelemahan kembali terjadi. Rupiah dibuka melemah 29 poin (0,16%) di level Rp 17.725 dan ditutup terpaut 57 poin (0,32%) lebih rendah di level Rp 17.753.

Menjelang akhir pekan, Jumat (18 September 2026), rupiah sempat menunjukkan tanda-tanda penguatan di awal perdagangan, naik 10 poin (0,06%) ke Rp 17.743. Namun, sentimen negatif kembali membayangi hingga penutupan sesi, di mana rupiah ditutup melemah tipis 5 poin (0,03%) ke level Rp 17.758.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan tren pelemahan rupiah terhadap dolar AS akan berlanjut pada perdagangan Senin depan, 21 September 2026. “Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diprediksi melemah di rentang Rp 17.750 – Rp 17.800 per dolar AS,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (18/9/2026).

Lebih lanjut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah untuk sepekan ke depan akan berada dalam rentang Rp 17.650 hingga Rp 18.000 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, nilai tukar rupiah berisiko tertahan di zona tekanan akibat sentimen negatif dari konflik di Timur Tengah. Konflik tersebut diketahui telah memicu gangguan pada perlintasan komoditas minyak di Selat Hormuz.

Selain faktor geopolitik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh perhatian pasar yang masih tertuju pada potensi kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS tersebut diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00%.