DailyFX.ID — Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan Jumat, 18 September 2026. Mata uang Garuda terdepresiasi tipis 5 poin atau 0,03% ke posisi Rp 17.758 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.753 per dolar AS.
Melemahnya rupiah ini dipicu oleh sejumlah faktor, baik dari eksternal maupun internal. Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa ketegangan yang kembali memanas di Timur Tengah menjadi salah satu penyebab utama. Perselisihan terbaru antara Arab Saudi dan kelompok Houthi menambah risiko baru terhadap pasokan minyak global, terutama di tengah konflik yang sebelumnya telah mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz.
Faktor diplomasi juga turut memengaruhi pasar. Presiden Donald Trump mengindikasikan adanya kemungkinan besar untuk kembali melancarkan aksi militer berskala besar terhadap Iran. Pernyataan ini menambah ketidakpastian di kawasan.
Dari sisi kebijakan moneter global, rupiah melanjutkan pelemahannya setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps). Kenaikan ini membawa suku bunga acuan menjadi berada di rentang 3,75% hingga 4,00%.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam pernyataannya menegaskan sikap hawkish, menyatakan bahwa inflasi masih terlalu tinggi. Ia menggambarkan kenaikan suku bunga ini sebagai langkah untuk mengurangi “dosis akomodasi”, mengingat kondisi keuangan saat itu belum menunjukkan tanda-tanda pengetatan yang signifikan.
Sementara itu, dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga terjadi setelah Kementerian Keuangan mengumumkan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Agustus 2026 tetap terjaga di level 0,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit ini tercapai dengan catatan pendapatan negara yang lebih rendah dari belanja, yaitu sebesar Rp 2.055,6 triliun atau 65,2% dari target APBN 2026.
Ikuti DailyFX.ID
