DailyFX.ID — Perdagangan emas pada Jumat (11/9/2026) ditutup menguat 0,75% ke level US$ 4.348,93 per troy ounce. Proyeksi optimis atau bullish datang dari sejumlah analis di Wall Street, yang memprediksi harga logam mulia ini akan kembali menanjak pada pekan mendatang.
Survei mingguan Kitco News Gold Survey yang melibatkan 14 analis menunjukkan sentimen yang kembali condong ke arah bullish, meskipun harga emas sempat mengalami penurunan selama sepekan terakhir. Sebanyak 9 analis atau 64% dari total responden memperkirakan harga emas akan menguat. Sementara itu, 3 analis lainnya atau 21% memprediksi pergerakan harga akan cenderung mendatar atau sideways namun tetap fluktuatif.
Marc Chandler, direktur pelaksana di Bannockburn Global Forex, memperkirakan harga emas akan diperdagangkan lebih tinggi menjelang pertemuan FOMC. Ia memprediksi rentang pergerakan harga emas pekan depan berada di kisaran US$ 4.460 hingga US$ 4.510 per troy ounce.
Senada dengan Chandler, analis pasar senior di FxPro, Alex Kuptsikevich, juga memperkirakan harga emas akan naik lebih tinggi. Namun, ia mencatat bahwa kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di negara-negara ekonomi utama terus menarik modal keluar dari pasar emas. Kuptsikevich mengamati bahwa harga emas sempat turun mendekati level US$ 4.300, yang menggeser keseimbangan kekuatan untuk menguntungkan pihak pembeli. Penurunan selama tiga pekan berturut-turut di mana harga jatuh di bawah rata-rata pergerakan 50 hari ini, menurutnya, menunjukkan adanya tren pembelian saat harga turun.
“Kendati demikian, kami mencatat adanya tren pembelian saat harga turun, yang bertolak belakang dengan skenario bearish atau penurunan harga yang biasanya terjadi dalam situasi serupa selama 15 tahun terakhir. Menurut pandangan saya, pekan lalu terjadi false breakout (penembusan semu), karena emas tidak kehilangan level dukungannya, berbeda dengan kejadian-kejadian serupa sebelumnya,” jelas Kuptsikevich.
Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day, menyatakan pandangannya tidak berubah. Ia melihat pergerakan naik harga emas di tengah tingginya inflasi konsumen AS yang memperkuat sentimen kenaikan suku bunga. Situasi ini, ditambah sentimen konflik di Iran, berarti pembalikan arah harga minyak dan dolar AS selalu mungkin terjadi, dan hal itu akan berdampak negatif bagi emas. Namun, ketahanan harga emas di tengah tekanan menunjukkan bahwa logam mulia ini perlahan-lahan membentuk dasar harga yang lebih tinggi di level US$ 4.300, sebelum kembali bergerak naik.
Ikuti DailyFX.ID
