DailyFX.ID — Harga batu bara mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan Jumat, 11 September 2026. Penurunan tajam ini disebabkan oleh aksi ambil untung (profit taking) oleh investor setelah kenaikan harga yang terjadi sebelumnya. Meskipun terkoreksi, prospek permintaan batu bara global diperkirakan tetap positif, didukung oleh tingginya kebutuhan listrik dan kenaikan harga gas alam.
Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle untuk kontrak September 2026 tercatat jatuh US$ 1,25 menjadi US$ 146,75 per ton. Kontrak Oktober 2026 melemah US$ 2,5 ke level US$ 147,9 per ton, sementara kontrak November 2026 anjlok US$ 3,25 menjadi US$ 150,2 per ton.
Di pasar Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak September 2026 juga melemah US$ 1,7 menjadi US$ 139,05 per ton. Kontrak Oktober 2026 ambles US$ 2,45 menjadi US$ 139,65 per ton, dan kontrak November 2026 turun US$ 2,6 menjadi US$ 139,25 per ton.
Meskipun terjadi koreksi, harga batu bara masih bertahan di atas US$ 145 per ton, mendekati level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Kondisi ini sejalan dengan perkiraan International Energy Agency (IEA) yang memproyeksikan konsumsi batu bara global akan mencapai rekor baru pada tahun 2026.
IEA memprediksi permintaan batu bara global akan meningkat sebesar 1,2% menjadi 8,94 miliar ton tahun ini. Proyeksi ini membalikkan perkiraan sebelumnya yang sempat memperkirakan adanya penurunan konsumsi.
Kenaikan harga gas alam, yang dipicu oleh ketidakpastian pasokan liquefied natural gas (LNG) melalui Selat Hormuz, mendorong pembangkit listrik untuk beralih dari gas ke batu bara. Peralihan ini terlihat di pasar-pasar utama seperti China, Korea Selatan, Jepang, dan Eropa, yang memberikan dukungan kuat terhadap permintaan batu bara di tengah perkembangan kapasitas energi terbarukan.
Selain itu, fenomena El Nino yang kuat turut meningkatkan kebutuhan listrik untuk sistem pendingin udara. Kondisi ini juga menekan produksi pembangkit listrik tenaga air di beberapa negara, termasuk India dan Vietnam.
IEA mengakui bahwa pertumbuhan kapasitas pembangkit listrik tenaga angin dan surya memang membatasi peningkatan penggunaan bahan bakar fosil. Namun, kenaikan kebutuhan listrik global secara keseluruhan dinilai masih cukup untuk menopang konsumsi batu bara.
Lebih lanjut, IEA memperingatkan bahwa jika gangguan terhadap aliran LNG melalui Selat Hormuz terus berlanjut, permintaan batu bara global berpotensi kembali mencetak rekor pada tahun 2027.
Ikuti DailyFX.ID
