DailyFX.ID — Pergerakan harga emas dalam dua dekade terakhir menunjukkan tren yang mengesankan. Sejak awal abad ke-21, logam mulia ini telah melonjak lebih dari 15 kali lipat, melampaui pertumbuhan indeks S&P 500 yang hanya sekitar 8,5 kali lipat dalam periode yang sama, termasuk akumulasi dividen. Meskipun pasar saham Amerika Serikat mengalami periode pertumbuhan teknologi yang tinggi, emas membuktikan ketahanannya sebagai aset lindung nilai utama di tingkat global.
Daya tarik emas bagi pasar keuangan terletak pada kelangkaannya dan tingkat likuiditasnya yang tinggi. Berbeda dengan uang kertas yang dapat dicetak oleh pemerintah, pasokan emas bersifat terbatas sehingga efektif menjaga nilai daya beli terhadap dampak inflasi. Dari sisi likuiditas, transaksi emas dalam skala miliaran dolar dapat dilakukan secara instan di pasar global dalam berbagai kondisi ekonomi.
Perubahan Strategi Bank Sentral Global
Bank sentral di berbagai negara terus meningkatkan porsi emas dalam cadangan devisa mereka. Sebelum standar emas AS dihapuskan pada 1971, bank sentral umumnya menyimpan sekitar 60% cadangan devisa dalam bentuk emas. Angka tersebut sempat menurun pada era 1980-an hingga 1990-an seiring rendahnya inflasi dunia, hingga mencapai titik stabil 10% saat krisis keuangan global 2008.
Eskalasi konflik geopolitik pada 2022 menjadi titik balik baru. Pembekuan aset cadangan obligasi AS milik Rusia oleh negara-negara Barat mendorong bank sentral di kawasan Asia dan Timur Tengah, dipimpin oleh China, untuk mengalihkan sebagian cadangan devisa mereka dari obligasi AS ke emas. Akumulasi pembelian bank sentral yang mencapai sekitar 4.500 ton atau setara US$ 20 miliar mendorong porsi emas dalam cadangan devisa global mendekati angka 30%.
Dinamika Harga dan Proyeksi US$ 7.000 pada 2030
Secara historis, emas bergerak berlawanan arah dengan imbal hasil obligasi riil. Namun, faktor utama penentu harga emas dalam jangka panjang adalah inflasi moneter atau pertumbuhan jumlah uang beredar. Data World Gold Council (WGC) menunjukkan pergerakan nilai emas dalam jangka panjang sejalan dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nominal dan ekspansi jumlah uang beredar.
Awal tahun ini, harga emas sempat menyentuh level tertinggi US$ 5.595 per ons pada 29 Januari 2026 menurut catatan Bloomberg internasional, naik 434% dari titik terendahnya sebesar US$ 1.064 pada akhir 2015. Setelah lonjakan signifikan sebesar 65% pada 2025, pasar mengalami koreksi sehat sebesar 29% dan kini mulai memasuki fase pemulihan bertahap.
Langkah intervensi kebijakan moneter, seperti pembelian obligasi jangka panjang oleh Departemen Keuangan AS, memperkuat indikasi pemerintah global cenderung memilih ekspansi moneter untuk mengelola beban utang. Berdasarkan pergeseran ekspektasi inflasi jangka panjang dan pembengkakan utang publik, target harga emas sebesar US$ 7.000 per ons pada 2030 dinilai tetap realistis.
Faktor Risiko dan Skenario Penurunan
Skenario penurunan harga emas (bearish) hanya berpeluang terjadi apabila negara-negara industri utama menerapkan kebijakan penghematan anggaran (austerity) secara ketat untuk menyeimbangkan defisit fiskal. Saat ini, defisit anggaran AS berada di tingkat 6,1% dari PDB dengan total utang melebihi US$ 40 triliun. Defisit anggaran juga dialami oleh negara besar lainnya seperti Inggris (5%), Prancis (5,7%), dan China (4,5%).
Selama reformasi anggaran secara radikal belum diterapkan oleh negara-negara tersebut, tekanan terhadap mata uang fiat akan terus menjaga daya tarik emas di mata investor. Terdapat beberapa metode yang dapat dimanfaatkan investor untuk memperoleh paparan terhadap instrumen emas seperti ETF emas dan perak, emas fisik, maupun aset campuran kripto dan emas.
Ikuti DailyFX.ID
