DailyFX.ID — NEW YORK – Harga emas melonjak lebih dari 4% pada perdagangan Rabu, 19 Agustus 2026, mencapai level tertinggi dalam hampir tiga bulan. Penguatan signifikan ini dipicu oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan pelemahan dolar AS, menyusul pengumuman mengejutkan dari Departemen Keuangan AS mengenai peningkatan dukungan likuiditas untuk pasar obligasi.
Menurut laporan Reuters, harga emas di pasar spot ditutup melonjak 4,35% menjadi US$ 4.523,03 per ons troi, menandai level tertinggi sejak 29 Mei 2026. Kontrak berjangka emas AS juga mencatat kenaikan tajam, ditutup melejit 3,62% menjadi US$ 4.580,75 per ons troi.
Secara teknikal, harga emas spot berhasil menembus rata-rata pergerakan 100 hari di kisaran US$ 4.381 per ons troi. Penembusan ini memperkuat sinyal bullish bagi logam mulia tersebut.
“Ini benar-benar tidak terduga. Kondisi ini sangat bullish untuk emas karena imbal hasil Treasury bertenor panjang turun dan hal tersebut dapat membantu menekan dolar AS,” kata Robert Gottlieb, pakar industri sekaligus mantan kepala perdagangan logam mulia di Koch Supply and Trading, seperti dikutip Reuters.
Indeks dolar AS tercatat turun 0,8%. Pelemahan dolar membuat emas, yang dihargai dalam dolar AS, menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain.
Imbal hasil obligasi AS bertenor 30 tahun mengalami penurunan tajam pada Rabu, setelah sebelumnya berada di sekitar level tertinggi dalam 19 tahun. Penurunan ini terjadi setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan akan menggandakan nilai operasi pembelian kembali obligasi guna mendukung likuiditas surat utang pemerintah AS dengan tenor panjang.
TD Securities dalam catatannya menyebutkan bahwa pengumuman tersebut telah memberikan ‘dorongan kehidupan baru’ bagi pasar logam mulia. “Meski tekanan beli yang kuat telah mereda dalam beberapa hari terakhir, arus investasi emas dapat dengan cepat kembali di tengah dukungan likuiditas Treasury, The Fed yang bersedia mengabaikan dampak guncangan energi, serta meningkatnya narasi stagflasi,” tulis TD Securities.
Kondisi ini diperkirakan dapat mendorong penurunan suku bunga riil, yang menjadi katalis positif bagi emas.
Prospek Suku Bunga The Fed
Di sisi lain, investor juga mencermati prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Risalah rapat The Fed pada 28-29 Juli menunjukkan bahwa beberapa pejabat siap menaikkan suku bunga pada pertemuan tersebut. Banyak pejabat juga menilai kenaikan suku bunga lebih lanjut mungkin diperlukan jika inflasi tidak kembali menuju target bank sentral AS sebesar 2%.
Namun, ekspektasi pasar saat ini menunjukkan The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 15-16 September. Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, probabilitas suku bunga tetap berada di level saat ini mencapai 65%.
Data ekonomi AS yang lebih lemah dalam beberapa waktu terakhir turut mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga.
Penguatan tidak hanya terjadi pada emas. Harga logam mulia lainnya juga mencatat penguatan tajam. Harga perak spot ditutup melesat 5,8% menjadi US$ 67,01 per ons. Platinum melejit 6,13% menjadi US$ 1.821,95 per ons, sedangkan palladium terkerek 3,43% menjadi US$ 1.333,63 per ons. Keempat logam mulia tersebut berada di jalur untuk mencatat kenaikan harian terbesar dalam dua pekan.
Ikuti DailyFX.ID
