— Para ahli memproyeksikan harga emas akan mengalami kenaikan signifikan hingga 11% pada akhir tahun 2026. Proyeksi ini didukung oleh meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat, serta peningkatan aksi beli dari investor dan bank-bank sentral.

“Setelah melalui lima bulan yang penuh tantangan, emas kembali mendapatkan momentumnya, didukung oleh harapan akan kemajuan negosiasi di Timur Tengah dan langkah investor yang menurunkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed,” tulis para ahli strategi di Wells Fargo Investment Institute dalam laporan terbaru yang dikutip dari Kitco News.

Analis mencatat, harga emas telah melonjak lebih dari 7% selama minggu pertama bulan Agustus, mencatatkan kenaikan mingguan terkuat sejak Januari 2026. Wells Fargo menyoroti ketahanan permintaan global hingga paruh pertama 2026 sebagai pendukung optimisme terhadap prospek harga emas.

“Investor internasional menunjukkan sikap yang sangat positif di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan pasar, risiko inflasi, serta suku bunga yang relatif rendah di sejumlah pasar utama seperti China,” kata para analis. Mereka menambahkan, meskipun harga spot emas global turun 5% pada paruh pertama tahun ini, investor Asia terus melakukan pembelian secara konsisten. Bahkan, kinerja emas selama jam perdagangan Asia tercatat naik 13%.

Ke depan, Wells Fargo melihat faktor-faktor pendukung ini akan terus mendorong kenaikan harga emas. Perusahaan keuangan tersebut menegaskan kembali pandangan positif mereka terhadap sektor logam mulia secara keseluruhan.

“Meski demikian, kami memperkirakan pergerakan naik harga emas tidak akan berjalan mulus, mengingat permintaan internasional menghadapi tantangan akibat tekanan kebijakan moneter AS,” mereka memperingatkan. “Oleh karena itu, kami tetap mempertahankan pandangan positif namun merevisi target harga emas akhir tahun 2026 dan 2027 menjadi lebih rendah, masing-masing di kisaran US$ 4.900 – US$ 5.100 per troy ounce dan US$ 5.400 – US$ 5.600 per troy ounce.”

Pergerakan Harga Emas Saat Gejolak Ekonomi

Kepala Strategi Ekuitas Global dan Aset Riil Wells Fargo, Sameer Samana, mencatat bahwa secara historis, emas mampu bertahan dengan cukup baik selama masa penurunan ekonomi. Dengan mencermati tren risiko resesi terkini dan periode pengetatan moneter yang agresif, ia menunjukkan bahwa penurunan harga emas umumnya tergolong moderat dibandingkan dengan banyak kelas aset lainnya.

Bahkan selama resesi tahun 2020 dan siklus pengetatan kebijakan The Fed pada tahun 2018, emas mengalami penurunan sekitar 15%. Krisis keuangan tahun 2008 menyebabkan penurunan yang mendekati angka 34%. Yang lebih penting, tren penurunan harga emas yang berkepanjangan biasanya berlangsung selama beberapa tahun, alih-alih terjadi dalam bentuk kejatuhan harga yang tajam.

Mengingat harga emas telah terkoreksi hampir 30% dari puncaknya, Samana meyakini bahwa sebagian besar dampak negatif potensial terhadap emas telah tercermin dalam pergerakan harga saat ini. “Menurut saya, sebagian besar tekanan pasar tersebut sudah diperhitungkan dalam harganya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa emas tetap memberikan manfaat diversifikasi yang berharga karena logam mulia tersebut kerap mencatatkan kinerja yang baik saat aset-aset tradisional sedang mengalami kesulitan.