— Pasar aset kripto menunjukkan geliat signifikan setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan rencana peningkatan operasi pembelian kembali (buyback) obligasi negara. Langkah ini disambut positif investor sebagai indikasi masuknya likuiditas baru ke pasar keuangan global.

Menyusul pengumuman tersebut, harga Bitcoin (BTC) terpantau melonjak sekitar 6% dan mencapai level US$ 68.500. Aset kripto lain turut merasakan dampak positif, dengan Ethereum (ETH) naik 8%, Solana (SOL) menguat 7%, dan XRP bertambah 4%. Departemen Keuangan AS mengonfirmasi akan menggandakan nilai maksimal buyback obligasi kupon nominal jangka panjang dari US$ 2 miliar menjadi minimal US$ 4 miliar per operasi. Program ini akan berlangsung mulai 9 September 2026 hingga 4 November 2026, dengan tujuan menyuntikkan likuiditas dan menstabilkan perdagangan obligasi pemerintah.

Kebijakan ini diperkirakan akan memberikan dampak pada beberapa variabel ekonomi makro. Imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 30 tahun dilaporkan merosot dari posisi puncaknya. Indeks Dolar AS (DXY) juga terkoreksi sekitar 0,8%, sementara harga emas melonjak 3,5% ke level US$ 4.487 per ons, mencatat posisi tertinggi sejak awal Juni 2026. Pelaku pasar melihat intervensi ini sebagai “QE Lite” atau Quantitative Easing skala ringan, yang meskipun bukan pengumuman QE resmi, efektif melonggarkan kondisi keuangan pasar.

Fenomena ini mendorong kenaikan harga Bitcoin karena pasar kripto secara historis diuntungkan saat kondisi keuangan melonggar. Penurunan yield obligasi dan pelemahan Dolar AS cenderung meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko seperti Bitcoin dan emas. Namun, kebijakan ini juga menimbulkan kekhawatiran baru terkait inflasi. Ekonom Peter Schiff berpendapat bahwa Departemen Keuangan AS terpaksa membeli obligasi jangka panjang yang kurang diminati investor swasta. Pembiayaan buyback melalui penerbitan utang jangka pendek berisiko membengkakkan defisit dan beban bunga negara.

Situasi ini berpotensi menekan Bank Sentral AS (The Fed) untuk memangkas suku bunga atau mencetak uang kembali, yang pada gilirannya dapat memicu lonjakan inflasi. Kondisi ini justru memperkuat narasi Bitcoin sebagai aset pelindung nilai (hedge) terhadap depresiasi mata uang dan inflasi.

Analisis Teknikal BTC dan Gelombang Likuidasi

Dari sisi analisis teknikal, lonjakan harga membawa Bitcoin menembus garis tren penurunan (descending trendline) serta batas atas rentang perdagangan tiga bulan terakhir. Level pengujian kunci yang sempat disentuh BTC adalah US$ 69.700 sebelum berkonsolidasi di kisaran US$ 68.500. Rata-rata pergerakan eksponensial (EMA) 20 hari dan 50 hari kini beralih menjadi area support.

Target resistensi terdekat berada di kisaran US$ 71.468 (EMA 200 hari). BTC juga sempat melampaui indikator SMA 200 hari di area US$ 69.031, level penting penentu tren jangka panjang yang terakhir kali ditembus pada Oktober 2025. Analis teknikal Aksel Kibar mengidentifikasi potensi pola pembalikan arah (bullish reversal) sejak titik terendah Juni 2026, yang dikenal sebagai pola Inverse Head and Shoulders. Jika BTC mampu bertahan stabil di atas neckline US$ 66.600, pola ini memproyeksikan target kenaikan hingga US$ 76.000.

Pergerakan tajam ini mengejutkan para pedagang yang memasang posisi short (membeli dengan harapan harga turun). Data CoinGlass mencatat likuidasi posisi derivatif kripto mencapai US$ 1,3 miliar hanya dalam kurun waktu satu jam, dengan porsi terbesar berasal dari pasangan perdagangan Bitcoin dan Ethereum. Kenaikan Bitcoin saat ini didorong oleh kombinasi penurunan yield obligasi, pelemahan Dolar AS, ekspektasi likuiditas, dan momentum teknikal yang membaik.

Untuk menjaga tren penguatan, fokus utama pelaku pasar adalah memantau apakah BTC mampu bertahan di atas level-level krusial yakni US$ 65.800, US$ 66.600, dan US$ 69.031. Kendati demikian, arah pergerakan selanjutnya masih sangat bergantung pada kondisi inflasi menyeluruh dan kebijakan suku bunga The Fed mendatang. Pergerakan positif kali ini menjadi angin segar bagi investor kripto setelah melalui fase pasar lesu (bear market) yang cukup panjang.

Pada Oktober 2025, Bitcoin sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) di kisaran US$ 126.000, didorong oleh adopsi institusional yang masif dan kondisi likuiditas global yang melimpah. Namun, memasuki akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tekanan makroekonomi, ketidakpastian arah suku bunga, serta pengetatan kebijakan moneter global menyeret harga BTC turun drastis hingga kehilangan hampir separuh nilainya. Transisi kebijakan Departemen Keuangan AS kali ini dipandang sebagai titik balik potensial yang dapat mengakhiri fase konsolidasi panjang dan membuka jalan bagi pembentukan tren naik (uptrend) baru bagi industri aset digital.