DailyFX.ID — Harga emas menguat pada perdagangan Jumat (25/9/2026), namun kinerja sepanjang pekan masih tercatat negatif. Penguatan ini belum mampu menutupi pelemahan akibat meningkatnya spekulasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed), kekhawatiran inflasi yang persisten, serta lonjakan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS).
Harga emas spot ditutup naik 0,27% menjadi US$ 4.285,37 per ons troi. Meskipun demikian, secara mingguan, harga emas tercatat turun sekitar 2,1%. Sementara itu, harga emas berjangka AS ditutup menguat 0,52% menjadi US$ 4.320,5 per ons troi.
“Lonjakan yield obligasi AS yang tak kunjung reda telah membuat emas menuju penurunan mingguan keempat dalam lima pekan terakhir,” ujar Chief Market Analyst Bybit Han Tan dikutip dari Reuters. Yield obligasi AS tenor 10 tahun bahkan dilaporkan menyentuh level tertinggi baru dalam 19 tahun terakhir. Kondisi ini meningkatkan biaya peluang bagi investor yang memegang emas, yang notabene tidak memberikan imbal hasil, sehingga mengurangi daya tarik logam mulia tersebut.
“Logam mulia tanpa imbal hasil ini kesulitan menghadapi berbagai tekanan, termasuk risiko inflasi yang terus meningkat, lonjakan yield obligasi AS, dan The Fed yang hawkish,” kata Tan lebih lanjut. The Fed sendiri telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pekan lalu, yang merupakan kenaikan pertama dalam tiga tahun. Bank sentral AS tersebut juga memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga berikutnya masih terbuka.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober mencapai 66%. Untuk Desember, probabilitasnya bahkan mencapai 93%. Kenaikan suku bunga menjadi tekanan bagi emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil. Ketika suku bunga dan yield obligasi meningkat, investor cenderung beralih ke aset alternatif yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Emas secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik. Namun, tekanan akibat kenaikan suku bunga membuat harga emas telah terkoreksi sekitar 19% dari level tertingginya pada sesi 27 Februari.
Di sisi lain, perkembangan negosiasi terkait konflik AS-Israel dengan Iran mulai meredakan sebagian kekhawatiran pasokan energi global. Para negosiator di New York disebut tengah menjajaki jalan keluar bertahap dari perang, termasuk kemungkinan Teheran membuka kembali Selat Hormuz dan Washington mencabut blokade ekonomi terhadap Iran. Akibatnya, harga minyak pun dilaporkan turun sekitar 3% setelah kekhawatiran pasokan mulai mereda.
Di pasar logam lainnya, harga perak spot naik 0,72% menjadi US$ 64,3 per ons. Platinum melesat 1,5% menjadi US$ 1.781,35 per ons, sedangkan palladium meningkat 0,48% menjadi US$ 1.271,35 per ons troi. Ketiga logam tersebut juga dilaporkan berada di jalur penurunan mingguan.
Ikuti DailyFX.ID
