DailyFX.ID — Harga Bitcoin (BTC) mengalami pelemahan pada perdagangan Sabtu (26/9/2026) pagi. Tekanan ini datang dari tingginya imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS) dan gejolak harga minyak yang masih membayangi aset berisiko.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 06.45 WIB, harga Bitcoin tercatat melemah 0,41% menjadi US$ 84.070 per koin. Angka ini setara dengan sekitar Rp 1,5 miliar, dengan asumsi kurs Rp 17.914 per dolar AS.
Meskipun demikian, kapitalisasi pasar kripto global justru menunjukkan kenaikan 0,19% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$ 2,89 triliun. Indeks CoinDesk 20, yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar, juga menguat 0,11%. Ethereum (ETH) naik 0,05% menjadi US$ 2.692, sementara Binance Coin (BNB) sedikit melemah 0,02% ke angka US$ 777.
Menurut CoinTelegraph, tekanan terhadap Bitcoin terjadi seiring pasar obligasi AS kembali menjadi sorotan. Yield obligasi AS 10 tahun sempat menembus 5,21% pada perdagangan Jumat, menyusul kenaikan tajam sebelumnya. Yield tenor 10 tahun dan 30 tahun bahkan berada di level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Kenaikan yield obligasi ini membuat aset berisiko seperti saham dan Bitcoin menghadapi tekanan. Hal ini disebabkan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dapat mengurangi daya tarik aset tanpa arus kas tetap.
Macro analyst Ben Cowen bahkan mempertanyakan apakah The Fed perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin untuk meredam kenaikan yield jangka panjang. Namun, pasar saat ini justru melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober menurun dari 72% menjadi 66%. Sementara itu, peluang kenaikan 50 basis poin berada di level nol.
Minyak Mulai Bikin Adem
Pergerakan Bitcoin juga bersinggungan dengan pergerakan harga minyak yang kembali turun. Penurunan ini terjadi setelah muncul laporan mengenai perkembangan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.
Iran dilaporkan telah menyampaikan persyaratan kepada AS melalui mediator Qatar terkait potensi pembukaan kembali Selat Hormuz. CBS juga melaporkan bahwa pembicaraan kedua negara telah memasuki fase teknis setelah kontak diplomatik awal.
Kabar ini segera memukul harga minyak. WTI sempat turun sekitar 3% menjadi US$ 91,74 per barel. Bersamaan dengan itu, yield Treasury 10 tahun turun sekitar 5 basis poin ke 5,16%. Bitcoin kemudian kembali bertahan di atas level US$ 84.000.
Mantan hedge fund manager, Hugh Hendry, menilai kenaikan suku bunga The Fed justru dapat menciptakan kondisi yang pada akhirnya membuka ruang untuk pemangkasan suku bunga. Menurut Hendry, minyak menjadi persoalan karena kenaikan harga energi dapat mendorong inflasi sekaligus menggerus daya beli masyarakat. Kondisi tersebut membuat kebijakan moneter bekerja seperti rem terhadap permintaan ketika ekonomi sudah terbebani kenaikan biaya energi.
Sementara itu, Bitcoin masih bergerak di kisaran US$ 84.000 setelah sempat menyentuh US$ 85.000 pada perdagangan Jumat. Data historis menunjukkan BTC ditutup sekitar US$ 83.901 pada 25 September, mengalami penurunan 0,60% dalam sehari.
Ikuti DailyFX.ID
