DailyFX.ID — Harga emas dunia terpantau melemah pada perdagangan Jumat (25/9/2026), mengindikasikan tren penurunan mingguan. Pelemahan ini dipicu oleh penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi demi mengendalikan inflasi.
Menurut catatan Reuters pada Jumat (25/9/2026), harga emas spot terkoreksi 0,1% menjadi US$ 4.274,90 per ons pada pukul 06.32 GMT. Koreksi ini mengukuhkan penurunan mingguan yang telah melebihi 2%. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS mencatat kenaikan tipis 0,3% ke posisi US$ 4.310,30 per ons.
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan dan berpotensi mengakhiri pekan di zona negatif. Harga silver spot turun 0,2% ke level US$ 63,76 per ons. Platina menguat tipis 0,1% menjadi US$ 1.750,80 per ons, berbeda dengan paladium yang anjlok 1,5% ke level US$ 1.254,73 per ons.
Dolar AS dan Imbal Hasil Obligasi Jadi Penekan
Indeks dolar AS yang bergerak menuju penguatan mingguan menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas. Penguatan mata uang Paman Sam membuat komoditas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Bersamaan dengan itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) juga terus menunjukkan tren kenaikan.
Analisis Pasar Senior OANDA, Kelvin Wong, menjelaskan dinamika pasar saat ini. Menurutnya, fokus utama pelaku pasar masih tertuju pada proyeksi suku bunga acuan. “Fokus pasar jelas akan terus tertuju pada situasi suku bunga. Ketika pasar mulai mengantisipasi kebijakan The Fed yang jauh lebih hawkish, hal itu akan memperkuat dolar AS dan berdampak negatif bagi emas,” ujar Kelvin Wong, Jumat.
Sinyal Pengetatan Kebijakan Moneter
Ekspektasi bahwa suku bunga acuan AS akan bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher-for-longer) semakin menguat setelah dua pejabat tinggi The Fed mengisyaratkan perlunya kenaikan lanjutan. Sinyal ini muncul tidak lama setelah penyesuaian suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pekan sebelumnya.
Presiden The Fed Philadelphia, Anna Paulson, menegaskan komitmennya untuk menekan inflasi hingga kembali ke target 2%. Ia menyatakan akan mendukung jalur kebijakan yang diperlukan untuk mencapai target tersebut, sembari tetap memperhitungkan risiko terhadap pasar tenaga kerja.
Nada serupa disampaikan oleh Presiden The Fed New York, John Williams, yang mengindikasikan kebijakan moneter yang lebih ketat masih membayang di depan. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperhitungkan probabilitas sebesar 71% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober 2026.
Dampak Suku Bunga Tinggi pada Emas
Secara teoritis, meskipun emas dikenal sebagai aset lindung nilai (hedging) terhadap inflasi, tingkat suku bunga yang tinggi cenderung mengikis daya tariknya. Hal ini disebabkan investor cenderung beralih ke aset yang menawarkan imbal hasil (yield-bearing assets).
Pergerakan harga emas sangat erat kaitannya dengan dinamika makroekonomi AS, khususnya arah kebijakan moneter The Fed dan pergerakan indeks dolar AS. Emas secara tradisional dipandang sebagai aset aman (safe haven) serta instrumen lindung nilai utama saat inflasi membumbung. Namun, emas memiliki karakteristik tanpa imbal hasil (non-yielding asset), artinya pemilik emas tidak mendapatkan bunga periodik seperti halnya obligasi atau simpanan bank.
Ketika The Fed menaikkan suku bunga acuan untuk menahan laju inflasi, imbal hasil US Treasury biasanya akan naik, yang kemudian memicu penguatan nilai tukar dolar AS. Kondisi ini menciptakan tekanan ganda bagi pasar emas. Investor cenderung memindahkan dananya dari emas ke instrumen obligasi atau pasar uang yang menawarkan imbal hasil lebih menarik saat suku bunga tinggi. Sementara itu, penguatan dolar AS membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor asing yang menggunakan mata uang non-dolar, sehingga menekan volume permintaan global.
Oleh karena itu, setiap kali pejabat bank sentral memberikan sinyal hawkish (pendukung pengetatan moneter), harga emas cenderung mengalami konsolidasi atau koreksi teknis. Sebaliknya, harga emas berpotensi melonjak ketika perekonomian diliputi ketidakpastian geopolitik atau saat pasar mengantisipasi pelonggaran suku bunga (dovish).
Ikuti DailyFX.ID
