— Harga emas melanjutkan reli tajam pada pekan lalu. Namun, lonjakan harga yang dipicu aksi fear of missing out (FOMO) investor mulai memunculkan sinyal peringatan karena emas telah memasuki kondisi overbought.

Harga emas ditutup melonjak 1,88% di level US$ 4.604,09 per ons troi pada perdagangan Jumat (24/8/2026). Harga emas hari ini dibuka melanjutkan penguatan sebesar 0,15% ke level US$ 4.610,57 per ons troi saat berita ditulis.

Senior Strategist Forex.com James Stanley mengatakan, kondisi tersebut membuat investor perlu lebih berhati-hati dalam mengejar kenaikan harga (chasing). Meski tren emas masih menunjukkan bias bullish, reli yang terlalu cepat meningkatkan peluang terjadinya koreksi jangka pendek.

“Dengan kondisi yang sudah overbought, masuk akal untuk mempertimbangkan skenario koreksi yang lebih dalam,” tulis Stanley dalam risetnya.

Stanley menyebut terdapat sejumlah area penting yang perlu dipantau jika harga emas mulai terkoreksi. Zona US$ 4.500 – 4.524 per ons troi menjadi area pertama yang dapat digunakan untuk mengamati potensi munculnya kembali tekanan beli. Jika harga mampu bertahan di area tersebut, struktur bullish masih memiliki peluang untuk berlanjut.

Sementara itu, lanjut dia, zona US$ 4.435 – 4.450 per ons troi menjadi area pertahanan bullish berikutnya. Koreksi menuju zona tersebut belum serta-merta membatalkan tren kenaikan, tetapi akan menjadi ujian terhadap kekuatan pembeli.

Dengan demikian, meski momentum emas masih kuat, investor sebaiknya tidak hanya melihat peluang kenaikan, tetapi juga menyiapkan skenario koreksi setelah reli yang sangat cepat.

Salah satu faktor yang membuat reli emas semakin agresif adalah aksi FOMO investor. Stanley menilai FOMO menghantam pasar emas dengan sangat kuat, terutama setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) mengumumkan rencana pembelian kembali obligasi (Treasury buyback) dalam skala lebih besar.

Pengumuman tersebut menjadi kejutan bagi pasar. Namun, langkah itu sekaligus memperkuat persepsi bahwa pemerintah AS masih bersedia menggunakan kebijakan fiskal untuk menopang perekonomian, meski kondisi utang terus membengkak.

Fiskal AS Jadi Penopang

Menurut Stanley, kesediaan otoritas AS untuk terus mendorong kebijakan fiskal demi mempertahankan pertumbuhan, termasuk ledakan investasi kecerdasan buatan (AI) yang ditopang utang, menjadi salah satu latar belakang penting penguatan emas dalam sekitar dua setengah tahun terakhir.

Reli terbaru juga tidak terjadi secara tiba-tiba. Stanley mencatat, harga emas sempat mengalami tekanan setelah keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Juni lalu.

Sikap hawkish terkait inflasi membuat dolar AS menguat dan ekspektasi kenaikan suku bunga kembali meningkat. Kondisi tersebut sempat menyeret emas di bawah level US$ 4.000 per ons troi setelah beberapa kali menguji level psikologis tersebut.

“Namun, tekanan jual gagal mengubah tren. Selama enam pekan berturut-turut, harga emas memang berulang kali mendekati US$ 4.000 per ons troi, tetapi tidak sekalipun mencatat penutupan mingguan di bawah level tersebut,” paparnya.

Menjelang pertemuan The Fed pada akhir Juli, tanda-tanda bullish mulai muncul melalui pembentukan level terendah yang semakin tinggi (higher low). Setelah pertemuan tersebut, emas kemudian mengalami breakout besar. Grafik mingguan menunjukkan pembeli semakin percaya diri mengambil kendali pasar.

Meski koreksi berpotensi terjadi, Stanley belum melihat struktur bullish emas kehilangan pijakannya. Level US$ 4.380 per ons troi menjadi area penting jika koreksi berlangsung lebih dalam. Level tersebut sebelumnya berperan sebagai resistance. Adapun US$ 4.305 per ons troi menjadi batas penting bagi skenario bullish.

“Jika harga emas gagal bertahan di atas level tersebut ketika terjadi koreksi, reli berpotensi kehilangan momentum dan struktur bullish yang terbentuk dalam beberapa pekan terakhir mulai dipertanyakan,” tutupnya.