— JAKARTA – Harga emas menembus level tertinggi dalam sepekan pada penutupan perdagangan Jumat, 18 September 2026. Penguatan ini menandai kenaikan mingguan pertama emas dalam empat pekan terakhir, dipicu oleh meredanya kekhawatiran akan tekanan inflasi berkepanjangan seiring penurunan harga minyak.

Harga emas spot tercatat naik 0,84% menjadi US$ 4.378,23 per ons troi, bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak 11 September. Sepanjang pekan, emas menguat 0,68%. Sementara itu, emas berjangka AS juga ikut terangkat 0,37% ke US$ 4.415,9 per ons troi.

Presiden World Markets EverBank, Chris Gaffney, menjelaskan bahwa penurunan harga minyak mengurangi tekanan inflasi. Minyak merupakan salah satu komoditas utama yang kerap mendorong laju inflasi. Ia menambahkan, investor logam mulia yang sebelumnya berspekulasi akan kenaikan suku bunga The Fed dan menahan posisi jual, kini mulai menutup posisi tersebut.

“Investor logam mulia sebelumnya memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed dan menumpuk posisi jual untuk memanfaatkan potensi penurunan harga emas. Posisi tersebut kini dengan cepat ditutup,” kata Gaffney mengutip CNBC Internasional.

Harga minyak mentah Brent melanjutkan tren pelemahannya untuk sesi ketiga berturut-turut. Kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan dari Arab Saudi mulai berkurang, meskipun pasar tetap waspada terhadap risiko eskalasi konflik di Timur Tengah yang bisa memicu kembali kenaikan harga minyak.

Penurunan harga minyak memang memberikan sedikit kelegaan terhadap kekhawatiran inflasi. Namun, potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah masih menjadi perhatian utama pasar yang dapat memicu volatilitas kembali.

Di sisi lain, dolar Amerika Serikat menguat ke level tertinggi dalam lebih dari tujuh pekan. Penguatan dolar membuat emas, yang dihargai dalam dolar AS, menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain.

The Fed Kembali Mengintai

The Federal Reserve (The Fed) pada Rabu, 16 September 2026, memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4%. Bank sentral AS ini juga mengisyaratkan kemungkinan adanya kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang.

Berdasarkan data CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 58% untuk kenaikan suku bunga AS berikutnya saat bank sentral AS kembali menggelar pertemuan pada Oktober mendatang.

Kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed berpotensi mengurangi daya tarik emas. Hal ini karena kenaikan suku bunga membuat aset-aset yang memberikan imbal hasil tetap menjadi lebih menarik bagi investor.

Tidak hanya The Fed, Bank of Japan juga dilaporkan telah menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun terakhir dan memberikan sinyal kesiapan untuk terus menaikkan biaya pinjaman.

Di India, permintaan emas dilaporkan masih lesu. Para pembeli cenderung menahan transaksi dengan harapan harga emas akan turun. Sementara itu, premi emas di Tiongkok dilaporkan tetap stabil, ditopang oleh permintaan investasi yang kuat dari investor lokal.

Gaffney memprediksi bahwa harga emas saat ini tengah menguji area resistance di kisaran US$ 4.400-4.440 per ons troi. Jika mampu menembus area tersebut, harga emas berpotensi membuka ruang kenaikan lebih lanjut.

Selain emas, logam mulia lainnya juga menunjukkan performa positif. Harga perak spot melesat 1,62% menjadi US$ 66,26 per ons troi. Platinum melonjak 1,69% menjadi US$ 1.802,35, sementara paladium menguat 1,23% ke level US$ 1.299,38.