DailyFX.ID — Perdagangan harga emas dunia pada pekan depan, 21-25 September 2026, diperkirakan masih akan dibayangi oleh tekanan bearish. Secara teknikal, emas berada dalam fase tren menurun pada grafik harian dan tertahan di sekitar level resistance US$ 4.357 per ons troi.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan bahwa level US$ 4.357 per ons troi menjadi krusial karena berdekatan dengan zona resistance kuat di kisaran US$ 4.357-4.403 per ons troi. Selama harga emas belum mampu menembus dan bertahan di atas area tersebut, Geraldo memprediksi tekanan bearish akan terus mendominasi pergerakan harga logam mulia.
“Jika tekanan jual kembali menguat, harga emas berpeluang bergerak menuju support terdekat di US$ 4.282 per ons troi. Level tersebut menjadi salah satu area penting yang perlu dicermati investor pada pekan depan,” tulis Geraldo dalam risetnya, Jumat (18/9/2026).
Selain struktur tren, Geraldo menyoroti pola Head and Shoulders yang terbentuk pada grafik harian. Pola ini dapat mengindikasikan potensi pelemahan lebih lanjut apabila harga gagal menembus resistance dan tekanan jual kembali meningkat.
Meskipun secara teknikal masih menghadapi tekanan, Geraldo mencatat bahwa harga emas sempat mencatatkan rebound lebih dari 2% pada perdagangan terbaru. Penguatan ini terjadi bersamaan dengan melemahnya dolar Amerika Serikat dan yield obligasi AS 10 tahun.
Penurunan harga minyak juga memberikan sentimen positif bagi emas, karena berpotensi meredakan kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi ini memberikan ruang bagi logam mulia untuk melakukan pemulihan setelah tertekan sebelumnya.
Namun, rebound emas masih menghadapi tantangan dari kebijakan moneter Amerika Serikat. The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan terbarunya dan masih membuka peluang kenaikan lanjutan.
Proyeksi terbaru menunjukkan bahwa 16 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir tahun. Kondisi ini menjadi tantangan bagi emas karena suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan instrumen berimbal hasil.
Faktor Tekanan Membayangi Pergerakan Emas
Geraldo menyebutkan, pergerakan dolar AS menjadi salah satu katalis utama yang perlu diperhatikan. Penguatan dolar cenderung memberikan tekanan terhadap emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar.
Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi AS 10 tahun juga masih menjadi perhatian. Imbal hasil tersebut sempat menembus level 5% pada awal pekan di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi.
Yield obligasi yang tinggi meningkatkan opportunity cost dalam memegang emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. “Sebaliknya, apabila yield obligasi dan dolar AS kembali melemah, ruang bagi emas untuk mempertahankan rebound masih terbuka,” kata Geraldo.
Geraldo menegaskan, area US$ 4.357-4.403 per ons troi menjadi resistance utama yang perlu dicermati pada pekan depan. Kemampuan harga emas menembus dan bertahan di atas zona tersebut akan menjadi faktor penting dalam melihat apakah struktur harga mulai berubah.
“Sebaliknya, kegagalan menembus resistance dapat membuat harga emas kembali menghadapi tekanan dan menguji support US$ 4.282 per ons troi,” tutup Geraldo.
Ikuti DailyFX.ID
